Pernah Rasakan Pahitnya Perceraian, Tarwi Bangkit dan Kini Sukses Produksi Pentol Bakso Daging

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG CANGKRING – Di dalam bangunan sebelah rumah berlantai dua Desa Bulung Cangkring RT 2, RW 1, Kecamatan Jekulo, Kudus tampak beberapa perempuan sedang membuat butiran bakso. Terlihat juga di ruangan tersebut ribuan butir bakso daging yang sudah dikemas. Di luar bangunan terlihat pria berkaus garis-garis sedang sibuk berbicara di sambungan telepon. Pria tersebut bernama Sutarwim pemilik usaha pembuatan bakso merek Ada Rasa.

Tarwi (kaus garis-garis) pengusaha bakso, bersama karyawannya 2017_4
Tarwi (kaus garis-garis) pengusaha bakso, bersama karyawannya. Foto: Rabu Sipan

Seusai menelepon, pria yang akrab disapa Tarwi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, mulai produksi pentol bakso pada tahun 2007. Namun sebelum membuat usaha itu, dirinya mengalami merasakan kegagalan dalam usaha, serta pahitnya perceraian.

“Aku menikah dengan istri pertamaku pada tahun 1981, dulu aku punya usaha toko sembako lumayan besar dan lengkap. Namun usahaku tersebut hancur dan bangkrut, aku pun bercerai dengan istriku. Tak lama mantan istriku itu meninggal. Aku sangat terpukul saat itu,” ungkapnya saat ditemui di tempat produksi bakso miliknya, beberapa waktu lalu.

Setelah istri pertamanya meninggal, dia mengaku menikah lagi pada tahun 1991. Menurutnya, saat menikah kedua kalinya tersebut dirinya mulai kehidupan dari nol. Dia bersama istrinya hidup sangat sederhana dengan penghasilan yang pas-pasan. Saat itu untuk menghidupi keluarga dirinya bekerja serabutan. Karena saat pernikahannya yang kedua berjalan tiga tahun, Tarwi dikaruniai anak.

“Saat anakku lahir itu aku bahagia sekaligus bingung. Dan saat anakku kelas lima SD, aku berfikir kalau aku kerja serabutan terus seperti ini apa nanti aku bisa menyekolahkan anakku. Dari itulah timbul keinginanku untuk berjualan lagi. Namun aku juga bingung jualan apa dan modal dari mana,” kenangnya.

Pria yang sudah dikaruniai delapan anak dan lima cucu itu mengungkapkan, hingga satu hari saat pergi ke pasar dia melihat orang menjual pentol bakso. Dia mengaku membeli bakso tersebut, namun dia menilai rasa pentol yang dibelinya kurang enak. Saat itulah terlintas dipikiran Tarwi untuk berjualan pentol bakso namun dengan rasa yang lebih enak.

“Tak berselang lama tepatnya pada tahun 2004 aku mulai bejualan pentol daging keliling dengan modal Rp 90 ribu hasil menjual kalung istriku. Saat pertama berjualan keliling aku sempat malu dan memakai helm. Jualan keliling yang aku mulai pukul 9.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB itu juga tidak laku,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, karena sepi pembeli, dirinya kemudian pulang untuk saalat Dzuhur. Setelah salat, dia bertekad untuk berjualan lagi dan tidak memakai helm. Saat itulah tetangganya mengenali dirinya dan membeli bakso daging yang dia jual.

“Saat itu seketika bakso dagingku laris dan habis terjual. Dan dari mulut ke mulut bakso dagingku mulai dikenal banyak orang dan jualanku juga makin laris. Alhamdulillah dari berjualan bakso daging keliling itu aku mampu mendirikan usaha produksi pentol bakso daging. Kini dari usaha tersebut aku mampu beli tanah, bangun rumah bertingkat dan punya beberapa mobil meski aku beli secara kredit,” ungkapnya sambil tersenyum.