Petani Undaan Minta Sungai Juwana Dikeruk, Karena Tanam Padi Selalu Penen Lumut

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Beberapa orang tampak mengangkat puluhan ikat bibit padi ke bak mobil pikap di pasar bibit padi di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, tepatnya di perbatasan Desa Kalirejo dengan Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus. Di lokasi itu tampak seorang pria berkaus oblong sedang menawar harga bibit padi ke penjual. Dia bernama Sawijan (55), yang merasa terbantu adanya penjual bibit.

Jual bibit padi di Desa Kalirejo, Undaan 2017_4
Jual bibit padi di Desa Kalirejo, Undaan. Foto: Rabu Sipan

Usai tawar menawar, kepada Seputarkudus.com Sawijan sudi berbagi keluh kesah karena tanaman padinya terendam banjir. Dia mengungkapkan, memiliki sawah di Desa Wonosoco sebanyak dua petak. Namun sayangnya lokasi sawahnya di dataran rendah dan selalu terendam saat turun hujan. Karena itulah dia tidak bisa menebar benih untuk dijadikan bibit.

Baca juga: Meski Hanya Punya Sawah Satu Petak, Mbah Rukin Untung Hingga Rp 4 Juta dari Penjualan Bibit

“Berhubung tidak bisa membuat bibit, setiap masa tanam aku pasti beli bibit padi di sini. Karena aku tidak mau ambil risiko dengan menebar benih di sawahku. Dulu pernah beberapa kali mencoba, setiap ada hujan sebentar saja pasti langsung terendam,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, sejak Sungai Juwana mengalami sedimentasi, area persawahan di Desa Wonosoco dan Desa Berugenjang sering terendam banjir saat hujan turun. Dirinya tidak pernah menebar benih padi di sawah miliknya.

“Aku berharap Sungai Juwana sampai Sungai Londo yang melintasi persawahan Desa Wonososco dikeruk. Agar saat ada hujan turun sawahku dan sawah lainnya tidak tergenang banjir. Selama ini kami tanam padi, tapi penen lumut,” ujarnya.

Warga Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengungkapkan, menebar benih untuk dijadikan bibit sebaiknya berada di lahan yang agak tinggi (genengan). Tapi sawah tersebut juga harus mudah untuk dialiri air. Karena, saat benih belum tumbuh menjadi bibit padi dan tergenang air, benih tersebut bisa membusuk .

“Untuk masa tanam kedua ini aku sudah menanam bibit dua kali, dan semuanya rusak akibat banjir. Ini yang ketiga, aku beli bibit padi lagi sekitar 100 ikat untuk sulam. Saya habis Rp 170 ribu. Itu beli bibitnya saja belum ongkos pengiriman bibit ke sawah dan ongkos kuli tanamnya,” ungkapnya Sawijan.

Pria yang sudah dikaruniai satu cucu itu mengaku, memiliki sawah di tempat dataran rendah membuat tanam padinya sering gagal panen. Untuk masa tanam pertama tahun ini dia mengaku gagal tanam. Dan dirinya mengaku rugi puluhan juta rupiah.