Pria Ini Lukis Manusia Berkepala Ayam, Memegang Buku dan Menggenggam Obor, Apa Maknanya?

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Seorang pria bertopi terlihat menggoreskan cat menggunakan kuas di tembok, Jalan dr Ramelan, Kelurahan Panjunan, Kota, Kudus. Dia menggambar manusia dengan tangan kiri memegang buku, dan tangan kanan menggenggam obor, tapi berkepala ayam. Dia adalah Muhammad Danang Suryono, pegiat mural yang tergabung dalam Komunitas Kudus Bergerak.

Danang Sukoco, anggota Komunitas Kudus Bergerak 2017_4
Danang Sukoco, anggota Komunitas Kudus Bergerak. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Danangsu tersebut sudi berbagi penjelasan. Dia mengungkapkan, gambar manusia berkepala ayam tersebut sudah mereka sepakati sebagai simbol dalam menyuarakan Muda Berdaya Bukan Diperdaya. Menurutnya, ayam jantan yang digambarkan, memiliki suara yang lantang, sedangkan obor menyimbolkan semangat dan keberanian. Mereka ingin menyuarakan sesuatu dengan lantang, lepas dan berani.

Baca juga: Komunitas Kudus Bergerak Serukan Muda Berdaya Melalui Goresan Cat di Tembok

“Kami membuat mural mulai pukul 16.00 WIB, kemungkinan selesai pukul 23.00 WIB. Sebelumnya gambar ayam menggunakan pengeras suara, tapi setelah kami diskusikan sepakat untuk diganti obor. Ayamnya juga membawa buku, dan ada tulisannya ‘Bukan Ternak’, melambangkan kebebasan,” ungkapnya, belum lama ini.

Selain ikut Kudus Bergerak, Danangsu juga ikut Kudus Street Art (KSA) sejak tahun 2012. Selain menyalurkan hobi, dia juga merasa bisa belajar dengan teman-teman di komunitasnya. Dia merasa mendapat ilmu dan pengalaman baru di setiap kegiatan yang mereka buat.

“Selain karena hobi, saya juga bisa belajar sama teman-teman. Seperti saat ini saya jadi mendapat sesuatu yang baru. Karena setiap membuat mural kami konsep terlebih dahulu agar memiliki pesan,” jelas warga Desa Bakalankrapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu.

Novian Tri Wicaksono (23), Ketua Kudus Bergerak, menambahkan, sebelum membuat mural, dirinya melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan KSA. Karena dinding yang mereka gunakan sebagai media kegiatan tersebut sebelumnya sudah ada karya komunitas dari KSA. Setelah mendapat izin, baru kemudian medeka hapus dan diganti gambar.

“Kalau mau membuat kegiatan seperti ini kami izin dulu dengan komunitas yang sudah pernah membuat gambar di sini. Biar tidak ada salah paham nantinya, kami juga menghargai karya teman-teman KSA, jadi kami merasa perlu meminta izin untuk menutup gambar mereka,” terangnya.