Sebelum Sukses, Bos Mi Ayam Super Murah Ini Pernah Jadi Kuli Bangunan Belasan Tahun

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Seorang pria berkaus putih dan berkerah menuangkan beberapa butir bakso ke dalam mangkuk. Dia kemudian menuangkan kuah dan beberapa bumbu, serta bihun ke dalam semangkuk bakso tadi. Dia adalah Turaikhan, pemilik warung mi ayam dan bakso di Desa Undaan Lor Gang 29, Kecamatan Undaan, Kudus. Bekerja sebagai buruh bangunan selama belasan tahun di perantauan tak membuatnya cukup. Dia akhirnya memilih pulang dan membuka usaha kuliner sejuta umat.

Turaekhan, penjual bakso super murah di Undaan Lor 2017_4
Turaekhan, penjual bakso super murah di Undaan Lor. Foto: Rabu Sipan

Beberapa bakso yang telah siap dihidangkan, kemudian di antar ke pembeli yang sudah menunggu di depan. Usai menyajikan hidangan, warga Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang lika-liku hidupnya mencari rezeki.

Baca juga: Super Murah, Warung di Undaan Lor Ini Jual Mi Ayam Harga Rp 3500, Tiap Hari Selalu Diserbu Pembeli

Dia mengisahkan, sebelum berjualan mi ayam dan bakso, saat berusia 18 tahun Turaekhan bekerja sebagai buruh bangunan hingga 32 tahun usia. Dia mengaku sudah bosan kerja ikut orang dan ingin memiliki usaha sendiri.

Saat keinginan itu muncul, kebetulan adiknya saat itu lebih dulu berjualan mi ayam. Turaekhan lantas belajar membuat mi ayam kepada adiknya. Setelah beberapa kali berlatih, dia memutuskan untuk siap berjualan mi ayam. Pertama berjualan, dia membuka warung di Desa Undaan Lor, Undaan, Kudus gang 24.

“Tahun pertama buka itulah aku merasakan bagaimana susahnya merintis usaha. Laris di beberapa bulan pertama, tak berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Saat sepi pembeli, muncul ide untuk melengkapi menu yang akan saya jual. Saya menambah menu bakso daging dengan harga sangat murah,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua orang anak itu mengatakan, setelah menambah menu bakso daging, pembeli kian bertambah. Setelah melewati tahun pertama, mi ayam dan bakso yang dia jual mulai diminati banyak orang dan laris manis.

“Harga yang saya patok untuk pembeli saya tekan serendah mungkin, tapi tanpa mengurangi kualitas rasa dan penyajian. Ini saya lakukan untuk menggaet pembeli kalangan pelajar. Namun alhamdulillah yang datang tidak hanya anak sekolah, melainkan juga buruh pabrik rokok, pekerja kantoran, pokoknya semua kalangan banyak yang suka mi ayam dan bakso daging jualanku,” ujarnya.

Dia mengatakan, setelah tiga tahun berjualan di Gang 24, Turaechan mampu membeli rumah di Gang 29 Undaan Lor, di tepi jalan raya, seharga Rp 200 juta. Dia kemudian merenovasi rumah barunya menjadi dua lantai.

Setelah proses renovasinya selesai, dia mengaku memutuskan pindah berjualan ke tempat baru. Menurutnya, setelah pindah, mi ayam dan bakso dagingnya makin laris meski harganya dinaikan menjadi Rp 3500 untuk mi ayam dan Rp 4500 untuk bakso daging seporsi.

Alhamdulillah sejak pindah tempat, mi ayam dan bakso jualanku makin laris. Sekarang aku mampu menjual mi ayam sebanyak 200 porsi dan bakso sekitar 300 porsi sehari,” ungkapnya.