Siswa Madrasah NU TBS Bagi-Bagi Sembako Murah Tanpa Memandang Status Agama

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Sejumlah ibu-ibu berkerumun memilih pakaian di halaman Masjid Attaqwa, Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Tak jauh dari kerumunan, di lapak Murah Gebyar Sandang, terlihat tumpukan sembako yang siap ditukarkan dengan kupon. Bazar dan Bagi-bagi sembako murah tersebut merupakan rangkaian kegiatan Bakti Sosial yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Madrasah NU TBS Kudus.

Siswa Madrasah NU TBS Kudus jual sembako murah di Rahtawu 2017_4
Siswa Madrasah NU TBS Kudus jual sembako murah di Rahtawu. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu di antara ibu-ibu yang datang ke acara tersebut, yakni Sri Patimah (37). Dia mengaku membeli celana kolor untuk anaknya. Karena mendengar ada bazar dengan harganya murah, dirinya kemudian datang dan membeli dua celana sekaligus. Selain membeli celana, dia juga menukarkan kupon dengan sembako murah.

Baca juga: Meski Gusinya Terluka, Farid Senang Bisa Ikuti Lomba Ambil Koin yang Diselenggarakan TBS

“Ini memeli celana untuk anak saya. Lumayan murah, jadi saya beli dua. Harga celananya Rp 5 ribu, karena membeli dua jadi Rp 10 ribu. Ditambah membayar sembako Rp 10 ribu, dapat beras, gula, dan mi. Saya senang ada yang jual murah-murah seperti ini,” ungkap ibu satu anak itu kepada Seputarkudus.com, Selasa (18/4/2017) siang.

Muhammad Nabil Fahmi (17), ketua panitia kegiatan, mengungkapkan, mereka membagikan sebaknyak 200 kupon sembako murah di tiga RT. Mereka dibantu Ansor Ranting Desa Rahtawu. Kegiatan bagi-bagi sembako murah ditujukan kepada seluruh masyarakat di desa setempat tanpa memandang setatus keagamaan.

Kegiatan tersebut, kata Nabil. sudah menjadi kegiatan rutin Madrasah NU TBS setiap tahun. Fokus dalam kegiatan bakti sosial kali ini melingkupi tiga bagian, yakni bagian keagamaan Islam, ekonomi dan pendidikan. Menurutnya, di antara tiga desa yang mereka survei, Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, dinilai paling tepat untuk kegiatan tersebut.

“Kami sudah survei di tiga tempat. Selain karena lokasinya yang jauh dari perkotaan, kami tertarik karena ada keberagaman beragama di sini. Ada tiga agama, Islam, Budha dan Kristen, semua toleran dan bermasyarakat dengan baik,” terang Nabil sapaan akrabnya.

Dia menambahkan, panitia mencari desa yang dinilai masih membutuhkan bantuan, lebih khususnya dalam bidang keagamaan. Mereka melakukan kegiatan di antaranya, pengajian dan diskusi Aswaja, khataman Al-Quran, mengirim doa untuk arwah jama’, kuliah tujuh menit (kultum) setiap pagi, pelatihan bilal, pelatihan rebana, mengajar di madrasah, dan pengajian Isro’ Mi’roj.

“Kegiatan ini kami laksanakan mulai 16 April 2016 hingga 20 April 2017. Selain membuat kegiatan keagamaan, kami juga ada kegiatan bersih-bersih Desa, pembenahan masjid, penyuluhan perkebunan, lomba anak-anak, bazar murah, bagi-bagi buku dan sembako murah. Kami mempersiapkan kegiatan ini selama tiga bulan, dan semua berjalan dengan lancar. Hanya ada sedikit kendala transportasi, karena jalan yang sempit untuk mobil lewat,” tambah pria asli Demak itu.