Ada Kudus di Dalam Museum Jenang Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Sejumlah mobil dan motor tampak memadati tempat parkir di depan bangunan dua lantai Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kota, Kudus. Pengunjung yang datang terlihat keluar dan masuk di Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya tersebut. Di lantai pertama, tampak beraneka ragam olahan jenang dan makanan ringan tertata rapi disetiap rak. Dengan keranjang warna kuning, para pengunjung mengambil jajanan tersebut untuk dibuat oleh-oleh.

Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya, Jalan Sunan Muria, Kudus 2017_5
Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya, Jalan Sunan Muria, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di sisi utara terdapat tangga untuk menuju lantai dua. Bangunan dengan luas 1.000 meter persegi tersebut ternyata memiliki Museum Jenang. Tampak miniature Menara Kudus setinggi lima meter di tengah bangunan, yang akan membuat pengunjung yang melihatnya akan terkagum.

Pada sisi selatan museum terdapat patung laki-laki yang sedang mengaduk jenang di atas kuali besar. Di sampingnya juga terdapat alat parut kelapa, pemeras santan  dan alat tumbuk, yang menurut Public Relation dan Guide Museum Jenang Ika Hapsari Enggarwati (24), alat-alat yang dimaksud dulunya digunakan untuk memproduksi jenang.

Ika menceritakan, generasi pertama jenang Mubarok yakni pasangan H Mabruri dan Hj Alawiyah yang memulai bisnis jenang sejak tahun 1910. Menurutnya alat produksi yang digunakan masih menggunakan cara manual. Dia memperkirakan, satu kuali besar dapat membuat adonan jenang antara 15 hingga 20 kilogram dengan membutuhkan waktu lima jam. Alat tersebut menurutnya berlanjut hingga generasi kedua jenang Mubarok yang dilanjutkan oleh H Achmad Shochib, anak pasangan H Mabruri dan Hj Alawiyah.

“Jenangnya saat itu masih besar-besar. Ukurannya sekitar 250 gram. Jualannya pun masih di Pasar Bubar yang sekarang menjadi Taman Menara,” tuturnya sambil menunjukkan diorama kondisi Pasar Bubar, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dari diorama yang dibuat tampak menggambarkan suasana pasar yang sangat ramai. Para pedagang pun terlihat berjualan di dalam gubug beratap genting. Ada pula yang mumbuat lapak beralaskan tikar. Dagangan yang dijual tidak hanya buah-buahan dan kebutuhan setiap hari, melainkan juga ada pedagang jenang tepat di bawah pohon beringin.

“Beringin yang ada di diorama itu ya beringin yang ada di dekat Menara (Menara Kudus) sekarang,” jelasnya.

Menurutnya, pada generasi kedua tahun 1940-1992, H Achmad Shochib membuat brand jenang bernama Jenang Sinar Tiga Tiga. Dan tahun 1992 sampai sekarang dilanjutkan generasi ketiga Muhammad Hilmy yang membuat perusahaan CV Mubarokfood Cipta Delicia.

“Itu foto generasi pertama dan kedua. Untuk generasi ketiga Pak Hilmy (Muhammad Hilmy) fotonya berada di sisi utara,” tuturnya sambil menunjukkan foto yang dimaksud.

Bangunan dua lantai milik Mubarokfood tersebut menurutnya mengusung konsep Sentra Bisnis dan Budaya. Dia menjelaskan, pada lantai pertama terdapat 25 produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Kudus dan luar Kabupaten Kudus.

Dia menambahkan, lantai dua terdapat museum yang berisi alat produksi jenang tempo dulu dan modern. Selain itu juga terdapat miniatur Menara Kudus, Rumah Adat Kudus, gebyok rumah joglo, Al-Quran ukuran besar, diorama Pasar Bubar, dan miniatur suasana Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsa yang terbuat dari stik es krim. Ada pula 16 galeri Kudus tempo dulu serta foto 17 Bupati Kudus dari tahun 1890 hingga sekarang.

“Tidak hanya ada rumah di dalam rumah, tapi ada Kudus di dalam Museum Jenang,” jelasnya sambil tersenyum.

Sejak pertama kali di-launching 24 Mei 2017, menurut Ika, sudah ada ratusan pengunjung yang datang. Selain untuk mencari oleh-oleh, para pengunjung juga bisa menikmati Museum Jenang secara gratis. “Konsepnya ada toko untuk memperkenalkan produk, namun sekaligus menjadi destinasi wisata,” ungkapnya.