Butuh 10 Tahun Bagi Cipto untuk Kembangkan Usahanya Jualan Sepatu dan Sandal

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Siang itu, Sucipto (52) tampak sibuk melayani pembeli yang datang ke lapaknya. Di lapak tersebut dirinya menjajakan beraneka ragam dan bentuk sepatu. Ada sepatu berbahan kulit, imitasi, sepatu untuk pria dan wanita, serta beragam bentuk dan warna. Dia yang datang jauh dari Surabaya, berharap sepatu yang dijual laris dibeli masyarakat di Kudus.

Cipto menunjukkan produk sepatu yang dia jual di lapaknya
Cipto menunjukkan produk sepatu yang dia jual di lapaknya. Foto: Rabu Sipan

Lapak yang dia buat untuk berjualan terletak di di Jalan dr Ramlan, tepatnya di belakang Bank Central Asia (BCA) Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Ratusan pasang sepatu dan sandal memenuhi lapak miliknya. Lapaknya selalu ramai pembeli yang datang. Saking ramainya pembeli, Cipto mendapat omzet hing Rp 7 juta sehari.

Seusai melayani para pembeli pria yang akrab disapa Cipto itu sudi berbagi kesan tentang kepada seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, datang jauh dari Surabaya ke Kudus berjualan sepatu dan sandal, karena potensi penjualan produknya di Kota Kretek cukup bagus.

“Penjualannya bagus, stabil dan terkadang juga naik dari tahun sebelumnya. Tahun ini juga penjualannya juga bagus, daya beli pengunjung terhadap sepatu dan sandal yang aku jual sangat baik. Dalam sehari aku mampu menjual sekitar 80 pasang dan aku mampu meraup omzet Rp 7 juta sehari,” ujarnya saat ditemui di lapaknya saat berjualan di tradisi Dandangan, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, pada tahun ini dia menjual sepatu olahraga , sepatu kulit, sandal kulit dan sejumlah produk lainnya. Sepatu kulit dia jual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 135 ribu per pasang. Sedangkan sepatu kulit dibandrol mulai harga Rp 85 ribu hingga Rp 245 ribu sepasang. Selain sepatu, tutur Cipto juga menjual sandal kulit antara harga Rp 95 ribu sampai Rp 125 ribu sepasang.

“Untuk harga kami sangat fleksibel dan bisa ditawar. Karena kami memang tidak menjual aneka sepatu dan sandal kami dengan harga mahal. Saat ada yang menawar dan aku masih dapat untung pasti aku lepas sesuai tawaran para pelanggan. Meski bisa ditawar, dijamin sepatu dan sandal yang aku jual kualitasnya oke punya,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai dua anak itu mengkisahkan mulai berjualan sepatu dan sandal sejak 18 tahun yang lalu. Menurutnya, sebelum berjualan dua alas kaki tersebut dirinya terlebih dulu punya usaha jasa tiket kapal selama dua tahun. Namun sayangnya usaha tersebut hasilnya tak seberapa, hingga dirinya tergiur untuk mengganti usaha dengan berjualan sepatu dan sandal kulit.

“Pada waktu itu aku tergiur itu karena lihat temanku yang lebih dulu merintis usaha serupa. Kok kayaknya lebih enak jualan sepatu dan sandal. Penghasilannya bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga. Karena alasan itu, aku nekat berjualan sepatu, dengan bekal enam pasang saja,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sepatu enam pasang tersebut ditawarkannya ke beberapa kantor di Surabaya. Menurutnya, butuh 10 tahun untuk membesarkan usaha berjualan sepatu dan akhirnya berjualan sandal juga. Setelah usahanya besar, delapan tahun lalu mulai ikut berjualan di sejumlah even di beberapa daerah.

“Selama ini aku sudah menjual sepatu dan sandalku ke semua daerah di Jawa Timur dan Bali, Untuk Jawa Tengah Semarang, Solo ke timur dan Yogyakarta. Aku berjualan di daerah tersebut saat ada pameran. Selama ini penjualan sepatu dan sandal kulit di acara even sangat bagus khususnya Dandangan Kudus. Pembelinya dan pengunjungnya banyak, sewa tempanya juga sangat terjangkau,” ujarnya.