Di Sini Para Penderita Gangguan Mental Dilatih Memasak, Salat, Hingga Bisa Mandiri

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG KULON – Sulani tampak masih sibuk membolak-balik nasi di dalam dandang. Pria berkaus abu-abu dan peci putih itu ingin memastikan nasi yang akan digunakan untuk makan malam benar-benar sudah matang. Saat nasi sudah dipastikan matang, bersama rekannya dia kemudian menata nasi itu di atas piring plastik.

Pondok rehabilitasi gangguan mental Yayasan Jalma Sehat Kudus 2017_5
Pondok rehabilitasi gangguan mental Yayasan Jalma Sehat Kudus. Foto: Imam Arwindra

Setelah hari tampak petang, dirinya membawa nasi yang sudah diberi sayur dan telur dadar untuk diberikan kepada rekan-rekannya sesama penghuni Yayasan Jalma Sehat, di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Tempat tersebut merupakan tempat rehabilitasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental.

Dia yang memiliki nama lengkap Sulani Bagus Dwisiro, selain bisa memasak, juga sudah bisa salat. Sebelum itu, menurutnya dirinya sudah bisa bangun tidur mandiri, mandi dan berpakaian dengan baik. Sulani menuturkan, dirinya berada di tempat rehabilitas karena sakit dan ingatan belum pulih.

“Setiap malam Selasa saya belajar agama dan mengaji. Selain itu juga dilatih untuk bekerja dan memasak,” tuturnya yang ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Warga Desa Tanjung Karang Kecamatan Jati, Kudus, itu sudah delapan bulan berada di Yayasan Jalma Sehat. Dia mengaku betah dan kondisinya pun mulai membaik.

Selain itu rekan Sulani, ada sejumlah penghuni lainnya yang mengalami sakit mental, di antaranya Bobi Imam Tobroni. Dia memiliki kondisi sama seperti Sulani, namun kini juga sudah mulai membaik. Bobi menuturkan, saat tinggal di Yayasan Jalma Sehat diperlakukan baik hingga dirinya sembuh. Selama satu tahun tinggal di tempat rehabilitasi itu, dia mengaku diberi tempat tinggal, makan, obat bahkan perkerjaan.

“Saya di sini karena sakit. Saya seperti anak kecil, kalau ada masalah langsung tidak terkendali,” tuturnya sehabis membuat batu bata.

Selama bekerja memproduksi batu bata, dia digaji oleh yayasan. Uang tersebut, digunakan untuk membeli es, rokok dan lainnya. Di tempat rehabilitasi itu, Bobi juga diajarkan salat dan mengaji. Menurutnya masih banyak temannya yang belum sembuh dan terpaksa ditempatkan di ruangan khusus yang terkunci. “Di sini enak banyak temannya,” tuturnya yang berasal dari Kabupaten Wonogiri.

Sementar itu, pengelola Yayasan Jalma Sehat Agus Salim (47) menuturkan, tempat rehabilitasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental sekarang ini dihuni 45 pasien. Menurutnya, saat pertama kali didirikan tahun 2014 ada 205 pasien yang tinggal. Karena sudah sembuh, mereka kembali ke keluarganya masing-masing.

“Ada pula yang sudah dua tahun di sini, namun dia tidak mau pulang. Dia sudah sembuh. Mungkin di rumah tertekan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, yayasan rehabilitasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental yang dikelolanya hanya khusus pasien laki-laki saja. Menurutnya, untuk pasien perempuan pihaknya belum memiliki fasilitas sarana prasarana pendukung. Agus mengakui, fasilitas tempat yang dimilikinya sekarang pun masih kurang. “Untuk perawatnya pun baru ada dua dan dokter spesialis satu,” tambahnya.

Selama tinggal di tempat rehabilitasi, pasien diajarkan hal-hal dasar di antaranya mandi, merapikan diri, makan dan pengetahuan agama. Selain itu, pasien juga diajak jalan-jalan di sekitar tempat rehabilitasi supaya mereka merasa tenang. “Kalau obat dan terapi pasti. Tak sampai satu tahun biasanya sudah sembuh. Ada juga yang baru lima bulan sudah sembuh,” jelasnya.

Untuk pasien yang sudah bisa mengendalikan diri sendiri, pihaknya mengajari untuk bekerja. Di antaranya membuat batu bata, beternak kambing dan memasak. Namun Bagi pasien yang belum sembuh masih harus tinggal di tempat yang terkunci.

Selama Bulan Ramadan, pasien yang berada di Yayasan Jalma Sehat juga diajari untuk salat Tarawih, tadarus Al-Quran dan kitobah. Menurutnya, saat pasien sudah benar-benar sehat mereka siap membaur dengan masyarakat di daerah asalnya. “Mungkin juga ada potensi kesana menjadi mubaligh,” tuturnya yang pernah mondok di Jombang.