Indahnya Warna-warni Cahaya Lampion di Dukuh Winong pada Malam Nisfu Sya’ban

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KALIWUNGU – Suara teriakan anak-anak memeriahkan pembagian hadiah di acara Festival Bodho Beratan di Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus. Tepat di depan panggung, terlihat sejumlah anak berdiri sambil menatap kupon undian hadiah yang mereka pegang. Satu di antara anak-anak tersebut yakni Aditia Firmansah (6). Dia mengaku senang bisa ikut acara yang diselenggarakan Ikatan Remaja Islam Nahdlatussyubban (IKARI) itu.

Festival Bodho Beratan di Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus 2017_5
Festival Bodho Beratan di Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Adit, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keikutsertaannya dalam acara yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban tersebut. Dia mengaku membawa lampion mobil-mobilan. Karena tidak ada yang membuatakan, dia harus membeli lampion itu untuk bisa ikut memeriahkan kegiatan.

“Saya beli mobil-mobilan, karena kakak saya tidak bisa membuatkan. Ini lagi menunggu pembagian hadiah, jadi saya lihat kupon kalau disebut biar bisa langsung naik panggung,” terang anak terakhir dari dua bersaudara itu, Kamis (11/5/2017) malam.

Sementara itu, warna-warni lampion menghiasi setiap sudut jalan di kampung tersebut. Ada lampion kecil yang dibawa saat akan melakukan kirab, dab ada pula lampion beraneka bentuk dengan ukuran cukup besar.

Para remaja di sejumlah kampung desa setempat membuat lampion miniatur berbagai bentuk. Erwin Setiawan (18), remaja musala wetanan, mengungkapkan, remaja di kampungnya mendapat anggaran Rp 30 ribu untuk membuat miniatur mobil. Karena tidak cukup memiliki waktu, akhirnya mereka membuat lampion miniatur kontainer sebisanya.

“Kami membuat kontainer, acara pukul 19.00 WIB, karya kami baru jadi pukul 18.00 WIB. Karena terburu-buru jadi kurang maksimal. Kami menghabiskan anggaran Rp 50 ribu. Anggaran yang diberikan panitia masih kurang. Tidak masalah, yang penting kami bisa meramaikan acara,” jelas pria yang akarab disapa Bedes itu.

Muhammad Robi Arianto (21), Ketua Panitia Festival Bodho Beratan, menjelaskan, acara tersebut sudah menjadi kegiatan rutin IKARI sejak 2008. Dalam kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB tersebut, panitia membagikan sekitar 150 hadiah kepada peserta. Mereka mempersiapkan kegiatan tersebut selama satu bulan.

Dana untuk kegiatan tersebut dari iyuran panitian dan sumbangan donatur. “Panitia ada 70 orang, pemuda dan pemudi yang ikut IKARI. Tadi peserta berjalan mulai dari Masjid Jami’ Al-Azis hingga Lapangan Rogomoyo. Tadi juga dimeriahkan grup musik dari desa kami, El-Laska Nasyedcustic,” ungkap Robi sapaan akrabnya.

Feri Andriawan (26), mantan ketua IKARI tahun 2008-2011, menambahkan, kegiatan Bodho Beratan sudah menjadi budaya sejak dahulu, memperingati Nifsu Sya’ban. Acara dikemas menjadi acara festival baru mulai tahun 2008. Untuk regenerasi IKARI, mereka juga mewajibkan tiga musala di Dukuh Winong untuk ikut berpartisipasi membuat karya.

“Kegiatan ini juga untuk menopang eksistensi desa kami yang sudah dinobatkan menjadi Desa Wisata. Di Desa kami ada budaya, pencak silat, ukir, gebyok, dan makam Mbah Rogomoyo. Jadi kami sebagai generasi muda harus menjaga budaya dan potensi desa yang ada,” tambahnya.