Johan Bahagia, Tiga Hari Lagi Dia Tak Tidur di Kamar Rutan yang Sempit dan Penuh Sesak

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Seorang pria masih mengenakan kaus oranye berkerah hitam usai membersihkan lingkungan Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus. Johan Marta (33), nama pria tersebut, selalu mengumbar senyum kepada siapa saja. Maklum saja, beberapa hari lagi, tepatnya 18 Mei 2017, dia dinyatakan bebas. Dia mengaku tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena akan segera bisa bertemu kembali dengan keluarga di rumahnya Nalumsari, Jepara.

Warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus 2017_5
Warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com, di Rutan Negara Kelas II B Kudus, Johan mengaku lega akhirnya akan segera bisa menghirup udara bebas setelah menempuh masa kurungan selama satu setengah tahun. Dia dihukum karena terlibat kasus penggelapan. “Lega dan senang. Akhirnya bisa bebas,” ungkapnya sambil tersenyum.

Baca juga: Johan Tak Jenuh Lagi Dalam Penjara, Dia Isi Waktu Buat Kerajinan Miniatur dan Keset

Selama di Rutan, dia mengaku banyak mengisi waktu dengan membuat kerajinan. Dia membuat produk miniatur dari bahan stik es krim. Strik tersebut dipotong sesuai bentuk dan ukuran, lalu kemudian disusun menjadi produk miniatur. Produk yang dibuat bersama rekan sesama warga binaan, di antaranya miniatur Menara Kudus, kapal layar, bingkai foto, dan lain sebagainya.

Di dalam rutan, Johan menempati kamar yang jumlah penghuninya melebihi kapasitas. Seperti terlihat di sel kamar 4 dekat ruang Bimbingan Kerja (Bimker), tertulis kapasitas kamar delapan orang, tapi diisi 11 orang. Dengan keadaan tersebut, Johan mengaku tidak masalah. Dia bisa menyesuaikan untuk hidup berdampingan bersama rekan-rekannya. “Tidak ada geng-gengan di rutan, semua saudara,” jelasnya.

Selama tinggal di rutan dia harus tidur berdesak-desakan. Namun hal tersebut membuatnya tetap merasa nyaman. Menurutnya, dirinya mendapatkan perlakuan baik dari rekan sesama narapidana dan petugas lapas. Para petugas lapas memberikan pelayanan terbaik serta melakukan pengamanan ketat. “Enak kok. Tapi ya saya sudah cukup. Tidak mau lagi (masuk penjara),” tuturnya.

Setelah keluar dari penjara, Johan berencana akan usaha bisnis interior bersama saudaranya di Nalumsari, Jepara. Menurutnya, dia akan memulai hidup baru lebih baik dari sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas II B Kudus Budi Prayitno memberitahukan, jumlah tahanan dan narapidana yang mendekam di Rutan yakni 234 orang. Menurut Budi, Rutan kelas II B hanya memiliki kapasitas 94 orang. Dirinya mengakui Rutan yang berada di Jalan Sunan Kudus mengalami kelebihan kapasitas.  “Lebihnya itu 100 sepuluh persen,” ungkapnya yang masih mengenakan seragam dinas warna biru.

Untuk mengantisipasi kelebihan kapasitas tersebut, pihaknya mengaku hanya bisa menyiasati dengan cara memutasi narapidana ke lembaga permasyarakatan (LP) lain. Selain itu, narapidana diberi kesempatan untuk pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas dan cuti bersyarat.

“Sejauh ini, progam tersebut sudah berjalan baik. Banyak warga binaan yang mendapatkan progam bebas bersyarat,” tambahnya.

Budi memberitahukan, dengan kondisi kelebihan kapasitas, pihaknya tetap melakukan pengamanan dan bimbingan kepada penghuni lapas. Dicontohkan, saat terdapat warga binaan baru, mereka akan ditempatkan pada ruangan masa pengenalan lingkungan (Mapelaning).

Di tempat tersebut, katanya, warga binaan akan diberi arahan serta penjelasan terkait kewajiban, larangan dan sanksi selama tinggal di lapas. Hal tersebut dilakukan agar cepat mengenal lingkungan sekitar. “Diarahkan, supaya bisa lebih cepat menyesuaikan,” tambahnya.

Dia menambahkan, jika ada warga binaan yang mentalnya down, pihak lapas akan memberikan konseling, agar masalah yang dihadapi dapat terselesaikan. Menurut Budi, lingkungan di lapas juga diberikan taman dan kebun. Selain untuk sarana berkebun, juga bisa menjadi wahanan olah raga dan rekreasi bagi warga binaan.