Johan Tak Jenuh Lagi Dalam Penjara, Dia Isi Waktu Buat Kerajinan Miniatur dan Keset

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Budi Johan (33) tampak serius memilah-milah kain perca yang tertumpuk dilantai depan sel kamar nomor 4 Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus. Dengan cermat, dia memilah helaian kain perca untuk disesuaikan warnanya.

Penghuni Rutan Kudus membuat kerajinan dari stik es krim 2017_5
Penghuni Rutan Kudus membuat kerajinan dari stik es krim. Foto: Imam Arwindra

Kain perca yang sudah dipilah, dibawa ke ruang Bimbingan Kerja (Bimker) untuk disatukan dengan cara dianyam. Tampak tiga rekan Johan sedang menganyam kain perca menggunakan batang besi yang sudah dimodifikasi. Dengan telaten mereka menyatukan lembaran kain perca menjadi bagian-bagian keset. Selanjutnya, dua orang di depan ruang Bimker menyatukan bagian keset tersebut menjadi sebuah keset utuh.

Menurut Johan, penghuni  Rutan Kudus, setiap hari dirinya melakukan aktivitas tersebut bersama rekannya sesama penghuni. Johan yang sebelumnya terlibat kasus narkoba, mengaku senang dapat ikut serta membuat kerajinan keset. Dia mengaku jenuh jika setiap hari hanya diam dan tidur dibalik jeruji besi. “Jenuh di kamar, mending ikut buat kerajinan,” ungkapnya saat ditemui di Rutan, beberapa waktu lalu.

Pria berkulit putih dan mata sipit itu menuturkan, untuk membuat kerajinan keset, dirinya belajar dari awal secara otodidak. Namun tetap mendapatkan bimbingan dari petugas Rutan. Selain membuat keset bersama 16 rekannya, dirinya juga membuat kerajinan berbahan stik es krim. Stik tersebut dibuat menjadi miniatur Menara Kudus, kapal, tempat tisu dan wadah korek api.

“Untuk membuat miniatur perlu waktu berminggu-minggu,” tambah Johan yang harus berada di penjara selama empat tahun.

Sementara itu, rekan Johan, Abdullah Zaini (34), mengaku berterima kasih kepada kepala Rutan karena diizinkan membuat kerajinan. Menurutnya, adanya aktivitas membuat kerajinan, dirinya tidak merasa jenuh saat berada di penjara. “Kegiatan ini sangat bagus untuk teman-teman yang kena hukuman panjang,” tutur Zaini yang terkena kasus penggelapan.

Dalam sehari, katanya, Zaini dan rekan-rekannya mampu menghasilkan enam hingga sepuluh keset. Hasil kerajinan tersebut akan dijual di luar Rutan. Dia mengungkapkan, tidak terlalu sulit membuat anyaman keset. “Mungkin saja setelah keluar bisa usaha seperti ini,” tambahnya yang mendekam selama tiga tahun.

Budi Prayitno, Kepala Rutan Kelas II B Kudus menuturkan, kegiatan yang dilakukan yakni bagian progam Direktorat Jendral Pemasyarakatan berupa pembinaan kemandirian dan pembinaan mental. Dalam pembinaan kemandirian, selain membuat keset pihaknya juga melatih tahanan untuk membuat kreativitas dari bahan baku stik es krim. Menurutnya, stik es krim tersebut dibuat miniatur, tempat tisu dan wadah korek api. “Kami juga punya cucian mobil dan motor di depan Rutan,” ungkapnya.

Hasil dari kerajinan menurutnya akan dijual di sekitar Kabupaten Kudus. Dia menceritakan, beberapa waktu lalu 100 buah keset dipesan alumni SMP di Kudus untuk kegiatan reuni. Setiap keset, pihaknya membanderol harga Rp 15 ribu.

“Tahanan yang mengikuti pembinaan kemandirian sejumlah 19 orang yang sudah terseleksi. Kegiatan ini untuk bekal kehidupannya mereka saat kembali ke masyarakat. Semoga tidak melakukan tindak pidana dan dapat hidup lebih baik,” tambahnya.