Jual Sepeda Ontel untuk Berjualan Bambu, Kini Jamari dan Istri Sudah Naik Haji dan Umroh 3 Kali

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Di tepi timur Jalan Lingkar Timur Ngembal Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus tampak ribuan batang bambu tersusun sesuai ukurannya. Di tempat tersebut tampak dua orang pekerja sibuk menaikan bambu ke atas mobil bak terbuka untuk dikirim ke pembeli. Terlihat juga di antara ribuan bambu tersebut, seorang pria berkaus lengan pendek sedang mengamati mereka. Pria tersebut adalah Jamari (47), pemilik usaha penjualan bambu.

Jamari dan istrinya, penjual bambu di Desa Jepang, Kudus
Jamari dan istrinya, penjual bambu di Desa Jepang, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut Jamari sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, usaha penjualan bambu dirintis oleh istrinya. Usaha itu dimulai pada tahun 1989. Namun, sebelum berjualan bambu, istrinya berdagang di depan sekolah SD di Jepang.

“Pada tahun 1988 di Desa Jepang ada pemilihan Kepala Desa. Karena istri dan pedagang lain di sekolah beda pilihan, kebetulan saat itu yang jadi Kepala Desa itu jagonya istriku. Hingga setelah selesai calonan dan mulai berjualan lagi istriku dikucilkan, tidak disapa dan tidak diajak ngobrol. Karena tidak betah, istriku memutuskan tidak lagi berjualan di sekolah dan ganti berjualan bambu,” ujarnya.

Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus itu mengungkapkan, untuk bisa berjualan bambu, istrinya harus menjual sepeda ontel serta menguras tabungannya selama kerja di proyek untuk modal. Karena, saat pertama berjualan, istrinya harus menyewa tempat dan membeli bambu satu rit truk dan pembayaran harus di depan.

“Sebelum menempati lokasi yang sekarang, kami harus pindah dan menyewa tempat satu ke tempat lainnya selama 10 tahun. Saat itu untuk menjual habis satu truk bambu yang berjumlah 400 batang istriku harus memerlukan waktu antara sepekan hingga 10 hari,” ujarnya.

Hingga pada tahun 1999, tuturnya, istrinya diberi lokasi berjualan yang cukup luas tanpa sewa oleh orang terpandang di Desa Jepang. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan lampu merah Perempatan Jepang. Dan sejak berjualan di tempat tersebut, dia mengaku mulai ikut dan membantu istrinya berjualan bambu

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak dan tiga cucu itu mengungkapkan, sejak berjualan di sana, penjualan meningkat drastis. Bahkan hasil dari berjualan bambu, dia bersama istrinya mampu naik haji dan tiga kali umroh. Selain itu dengan berjualan bambu, kini dia mampu memberi modal usaha kepada anak serta menantunya.

“Aku bersyukur dengan berjualan bambu serta atas bantuan lokasi penjualan tanpa sewa, aku bersama keluargaku seolah terangkat derajatnya. Karena aku mulai usaha dari nol dan sekarang Alhamdulillah bisa berkembang. Hasilnya bisa beli beberapa bidang tanah, sawah, bangun rumah, mobil dan memberi modal anak untuk berwirausaha,” ungkapnya.