Kaligrafi Arab Ini Dijual Seharga Rp 100 Juta, Digores dengan Handam dan Pernah Juara di Iraq

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Seorang pria berbaju putih lengan panjang terlihat mendatangi setiap pengunjung yang datang di acara Gelar Karya Dan Lomba Kaligrafi di halaman Masjid Agung Kudus. Dia juga menjelaskan kepada pengunjung tentang sejumlah kaligrafi yang dipamerkan. Dia adalah Mochammad Thiroz (36), Ketua Asosiasi Kaligrafi Arab (Akrab). Dari sekian kaligrafi yang dipamerkan, ada satu karya yang dijual seharga Rp 100 juta.

Kaligrafi Kudus seharga Rp 100 juta dipamerkan di Masjid Agung Kudus 2017_3
Kaligrafi Kudus seharga Rp 100 juta dipamerkan di Masjid Agung Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Thiroz mengungkapkan, acara tersebut digelar Akrab untuk menyambut bulan Ramadan. Selain dipamerkan, sejumlah kaligrafi yang dipajang di sketsel tersebut juga dijual. Satu di antara karya yang dijual, yakni kaligrafi bergaya Tsulusi, yang dibanderol seharga Rp 100 juta.

Dia menjelaskan, tingkat kesulitan pembuatan kaligrafi seharga Rp 100 juta itu, berbeda dengan kaligrafi yang lain. Pembuatannya menggunakan Handam, kuas yang terbuat dari bambu. Selain itu, kaligrafi tersebut murni goresan tangan secara langsung. Karya kaligrafi tersebut pernah memenangkan kejuaraan kaligrafi tingkat internasional yang diselenggarakan di Iraq.

“Yang harga Rp 100 juta ini murni tulisan tangan. Hurufnya juga rapi dan seimbang, itu yang tidak mudah. Menurut Huda Purwadi, pembuatnya, untuk menyusun huruf saja butuh waktu tiga bulan. Dalam penulisan, jika salah sedikit ya perlu mengulang dari awal. Jadi memang ini paling sulit. Kaligrafi ini pernah mendapat juara di even internasional,” tambah anak kedua dari empat bersaudara itu.

Sementara itu, belasan orang keluar dari masjid dan kemudian mengunjungi tempat dipamerkannya sejumlah karya kaligrafi. Satu di antaranya yaitu Khoirun Niam (21), dia mengaku kagum dengan karya kaligrafi Ayat Kursi dengan media kayu jati, yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai kapal.

Khoirun mengatakan, kaligrafi tersebut dinilai yang paling bagus. Karena permainan gradasi warnanya sangat elok, dan saat dilihat dari jarak tiga meter terlihat seperti gambar tiga dimensi.

“Yang paling bagus ya gambar kapal ini. Pewarnaanya bagus, ada gradasinya. Jadi saat saya lihat dari jarak tiga meter seperti gambar tiga dimensi. Pembuatannya juga rapi, dan rumit sepertinya,” ungkap pria dari Grobogan sambil menunjukan kaligrafi motif gambar kapal tersebut.

Pria yang saat ini belajar di Pondok Pesantren Miftahussa’adah, Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, itu datang bersama pengasuh pondok dan dua orang temannya. Mereka ke Kudus untuk membeli kitab. “Ini tadi mampir salat, di halaman masjid ada pameran jadi kami lihat-lihat dulu,” terangnya.