Kisah Pendirian Yayasan Jalma Sehat, Agus Tak Tega Melihat Orang Gila Tak Terurus

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG KULON – Lokasi pengeringan padi di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kudus tampak ramai digunakan sejumlah anak untuk bermain. Beberapa karung padi sudah tertata rapi di dalam karung putih yang bersandar di tembok bangunan penggilingan. Mesin penggiling pun juga sudah tidak terdengar bunyinya. Hanya ada suara kambing dan beberapa orang yang sedang sibuk membuat batu bata pukul 15.00 WIB sore.

Penghuni Yayasan Jalma Sehat, Bulung Kulon, Kudus 2017_5
Penghuni Yayasan Jalma Sehat, Bulung Kulon, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di samping tempat penggilingan padi, terdapat ruang tertutup yang terkunci dari luar. Tampak puluhan laki-laki sedang berada di dalamnya. Mereka ada yang sedang tiduran, ada yang senyam-senyum sendiri, ada pula  yang tampak melamun dengan tatapan kosong. Tertulis di sisi depan ruangan baner warna kuning ‘Yayasan Jalma Sehat Pusat Rehabilitas Gangguan Jiwa dan Cacat Mental’.

Baca juga: Di Sini Para Penderita Gangguan Mental Dilatih Memasak, Salat, Hingga Bisa Mandiri

Menurut pengelola Yayasan Jalma Sehat Agus Salim (47), tempat tersebut yakni yayasan untuk merehabiliasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental. Yayasan yang berada di lingkungan penggilingan dan pengeringan padi menurutnya sudah ada di Kudus sejak tahun 2014. “Sejak berdiri pada tahun 2014 sudah ada 205 pasien. Kalau sekarang tinggal 45 orang,” tuturnya saat ditemui belum lama ini.

Agus, sapaan akrabnya, menceritakan, dirinya mendirikan tempat pengobatan penderita gangguan jiwa dan cacat mental karena merasa iba akan kondisi yang dialami mereka. Dia mengaku tidak tega dengan penderita gangguan jiwa dan cacat mental yang seolah-olah tidak terurus oleh negara dan dipandang sebelah mata. Akhirnya dirinya merasa tersentuh untuk membuat yayasan rehabilitasi, supaya mereka dapat sembuh dan masa depannya bisa berjalan dengan baik.

“Ini sekaligus menjadi tabungan akhirat. Mengelola mereka untuk membina masa depan,” jelasnya yang mengenakan peci hitam berkaca mata.

Pihaknya mengaku tidak memberikan tarif  khusus untuk pasien yang berobat di tempatnya. Dia hanya memberikan syarat, saat pasien dititipkan di Jalma Sehat ada pihak keluarga atau yang bertanggung jawab, agar asal usulnya jelas. Dirinya juga mengaku sering menerima orang yang berkebutuhan khusus dari hasil operasi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kudus. Hal tersebut diterimanya karena jelas ada yang mengantar dan bertanggungjawab.

“Intinya di sini tidak mematok biaya. Monggo kerso (silahkan) jika  mau dititpkan,” tambahnya.

Agus mengakui, fasilitas rehabilitasi yang dimiliki sekarang memang masih kurang tidak selengkap seperti Rumah Sakit Jiwa. Menurutnya, pernah ada orang yang datang menitipkan keluarganya namun meminta tempat khusus dan very important person (VIP). Karena tidak adanya fasilitas, dirinya hanya mempersilahkan tempat seadanya.

“Saat itu kami hanya menawarkan tempat seadanya. Ya memang gini bu tempatnya. Kalau monggo kerso (berkehendak) silakan. Kalau tidak geh mboten nopo-nopo (tidak apa-apa),” tuturnya sambil menirukan saat Agus bertemu dengan keluarga pasien.

Namun akhirnya, keluarga pasien menitipkan di Jalma Sehat. Dia memberitahukan, pasien yang direhabilitasi di Jalma Sehat menurutnya tidak sampai satu tahun. Biasanya dengan jangka waktu lima bulan sudah sembuh. Selain diberikan obat, makan dan tempat tinggal, pasien juga diberi terapi khusus. Di antaranya, olahraga dan jalan-jalan.

“Ini ada pasien namanya Imam, dia sudah dua tahun di sini. Sebenarnya dia sudah sembuh. Dia sudah bisa beternak, mencari rumput. Mungkin kalau di rumah tertekan. Akhirnya dia memilih di sini,” terangnya.

Di Jalma Sehat, sementara ini hanya menerima pasien laki-laki saja. Menurutnya, untuk pasien perempuan pihaknya belum siap karena kurangnya fasilitas. Selama mengelola tempat rehabilitasi, pasien yang sudah bisa mandiri dikeluarkan dari kamar yang terkunci. Mereka diajari bekerja seperti membuat batu bata, memasak dan beternak kambing.

Diakuinya, kamar pasien yang belum sembuh pernah jebol pintunya. Saat itu pikirannya tidak terkendali. Namun hal tersebut mampu diatasinya dengan cepat. Kini ruangannya sudah diperbaiki dan ditambah pengamanan tambahan.

“Selama di sini terkhusus saat Ramadan, pasien juga diajari salat tarawih, tadarus dan khitobahan. Semoga saat sudah sembuh dan kembali di masyarakat mereka dapat beradaptasi dengan cepat,” tuturnya.