Kuliner Burung Goreng di Kalirejo Ini Fenomenal, Kalau ke Undaan Jangan Lupa Dicoba

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Di tepi barat Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus tampak bangunan dua lantai. Di dalam bangunan lantai bawah tampak seorang perempuan setengan baya mengenakan daster sedang sibuk menggoreng burung untuk dihidangkan kepada para pembeli. Perempuan tersebut bernama Tumisih (52), generasi ketiga Warung Bu Tun yang menjual menu khas yakni burung goreng, atau sering disebut iwak manuk.

Kuliner iwak manuk Desa Kalirejo, Undaan, Kudus 2017_5
Kuliner iwak manuk Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani para pembeli, Tumisih sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang warungnya tersebut. Dia mengungkapkan, warung miliknya itu dirintis oleh neneknya, Rasimah. Ibunya, Muntirah, kemudian meneruskan pengelolaan warung, dan sejak tahun 1997 warung tersebut dia kelola.

“Sebenarnya ibuku itu meninggal pada tahun 2010. Namun karena tiga tahun sebelumnya beliau sering sakit-sakitan, beliau memintaku untuk mengelola. Aku pun bersedia saja karena memang sebelumnya sudah terbiasa membantu ibuku memasak di warung. Warung ini sudah dikenal banyak orang dan lumayan laris. Sayang juga kalau tidak diteruskan,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan yang tinggal satu atap dengan bangunan warungnya tersebut mengatakan, Warung Bu Tun dikenal sebagai warung yang menyajikan aneka hidangan burung sawah. Di antaranya, burung kuntul, mliwis, peruk, pelung, sirmbokmbok, blekok, belibis dan bangau. Menurutnya, harga untuk iwak manuk juga berbeda, tergantung ukuran burung sawah tersebut.

“Untuk ukuran burung paling kecil harganya Rp 13 ribu per ekor, ukuran sedang Rp 16 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung dari jenis burungnya. Sedangkan burung belibis dijual Rp 60 ribu, dan paling mahal itu burung bangau yang dijual Rp 110 ribu per ekor, karena ukurannya yang lebih besar,” jelasnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak pria itu mengungkapkan, dalam sehari warungnya mampu menjual sekitar 100 ekor burung goreng. Warungnya tersebut hanya menyajikan burung goreng, tidak menyajikan burung dengan olahan lain. Kecuali, kata dia, saat pelanggan memesan dalam jumlah tertentu.

“Goreng saja lumayan memerlukan waktu lama, apalagi kalau disajikan dengan cara lain pasti lebih lama lagi. Karena itu kami memasak burung dengan sajian lain saat ada pelanggan yang pesan. Saat belum ada yang pesan, kami belum berani memasaknya, karena akan berpengaruh rasa lauk burung tersebut,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski sudah tiga generasi, Warung Bu Mun masih tetap ramai pembeli dan makin banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya tidak hanya warga Kudus, tapi juga datang dari Jepara, Demak, Pati, Purwodadi, Blora dan bahkan ada yang datang dari Semarang.

“Aku berharap menu lauk burung goreng yang aku jual makin laris dan makin diminati banyak orang. dan semoga ini selalu ramai pembeli agar kelak satu dari menantuku ada yang tergoda dan minat meneruskan usaha warung ini,” harap Tumisih.