Latief Tak Pernah Absen Datang ke Acara Jagong Kamulyan

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Suara Terbang Papat mengalun di Omah Gebyog Mejobo selatan Masjid Besar Al-Ma’wa Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus. Tampak panggung dengan sembilan bendera warna putih di sisi. Ratusan orang duduk di depan panggung berkarpet hijau, dalam kegiatan Jagong Kamulyan ke-4. Kali ini acara digelar bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun (HUT) Gerakan Pemuda Ansor ke-83.

KH Najib Hasan menyampaikan pemaparan dalam Jagong Kamulyan 2017_5
KH Najib Hasan menyampaikan pemaparan dalam Jagong Kamulyan. Foto: Imam Arwindra

Beberapa pengunjung di antaranya ada yang mengenakan peci hitam, ada pula yang mengenakan ikat dan bersarung. Satu di antara pengunjung yang hadir, yakni Latief Isroi (28) yang tampak khidmat mengikuti acara bertema “Merawat Tradisi Menjaga NKRI” itu. Latief yang datang dari Desa Ngembalrejo Kecamatan Bae, Kudus, mengaku sangat tertarik dengan kegiatan bertema kebudayaan.

“Saya sering mengikuti acara bertema kebudayaan. Kebetulan saya tidak ada kegiatan penting, jadi saya datang ke acara ini,” ungkap Latief, Minggu (30/4/2017) malam.

Dia mengungkapkan, sebagai generasi muda, dirinya merasa perlu untuk mengetahui tradisi-tradisi yang ada di Indonesia, terutama di Kudus. Menurutnya, dengan mengetahui tradisi yang sudah ada, tentu ada upaya untuk menjaganya dan tentu akan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Rasa ingin tahu harus muncul. Dan anak muda seharusnya harus mengerti. Kan sekarang sudah muncul gerakan yang ingin menghilangkan tradisi-tradisi di Indonesia. Kalau tradisi sudah hilang, jati diri Indonesia akan hilang juga,” tuturnya.

Dalam kegiatan yang dimulai 20.00 WIB hingga 00.30 WIB, hadir Instruktur Nasional Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor KH Ahmad Nadhif, budayawan Kudus KH M Nadjib Hassan, Kasatkorwil Banser Jawa Tengah Hasyim Asy’ari dan Budayawan Solo, Sosiawan Leak. Mereka dipandu moderator Abdul Jalil untuk memantik diskusi.

Menurut KH M Nadjib Hassan yang juga ketua Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), merawat tradisi sangat diperlukan untuk mendukung keberadaan NKRI. Dia menuturkan, dalam merawat tradisi perlu adanya upaya berupa bentuk dari perawatan tradisi. “Posisi mengembangan tradisi Sunan Kudus sama halnya mendukung keberadaan NKRI,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan tidak sepakat dengan kata toleransi antar-umat bergama. Menurutnya, yang lebih tepat yakni tepo seliro (tenggang rasa). Nadjib mencontohkan, tepo seliro bisa dilihat dari bentuk bangunan Menara Kudus yang memberikan pesan damai. “Dari bentuknya (Menara Kudus), Islam tidak menyerang, melainkan merangkul. Coba lihat bagian bawah Menara, itu berarsitektur Hindu,” jelasnya.

Sementara itu, ketua panitia Mawahib menuturkan, kegiatan Jagong Kamulyan merupakan rangkaian kegiatan Gebyar Maulidur Rasul dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW serta harlah GP Ansor ke-83. Sebelum acara tersebut, diadakan Ansor Cup Badminton 2017 serta Kirab Merah Putih pada Minggu siang (30/4/2017).

Rangkaian kegiatan yang dilakukan Pengurus Cabang GP Ansor Kudus dan Yayasan Nusantara Satu Kudus itu, menurutnya akan berlanjut Ngaji Kebangsaan dan Festival Kreativitas Banser. Dia menambahkan, Festival Kreativitas Banser akan dilaksanakan tanggal 5 dan 7 Mei 2017 di MA Hasyim Asy’ari Kudus, Sunggingan.