Menteri Perdagangan Tinjau Alat Penyimpan Sayuran Produk PT Pura Kudus

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, TERBAN – Sejumlah 28 ruangan  terlihat berjejer di ruangan milik PT Pura Agro Mandiri (Pura Group) Jalan Kudus-Pati Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Ruangan boks tersebut yakni  teknologi Controlled Atmosphere Storage (CAS) yang berfungsi untuk mengawetkan komoditas sayuran terutama bawang merah.  Alat tersebut ditunjukkan manajemen PT Pura Agro Mandiri dan Gudang Sistem Resi Gudang (SRG), kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkunjung ke PT Pura Kudus 2017_5
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkunjung ke PT Pura Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sejumlah teknologi CAS berwarna putih pun juga terlihat di sisi utara ruangan CAS warna kuning. Tampak beberapa pegawai sedang menimbang bawang merah dan disusun di atas rak kayu. Selanjutnya, tumpukan bawang merah tersebut dibawa menggunakan Forklift menuju CAS.

Setelah mendapatkan penjelasan dari manajemen perusahaan mengenai teknologi CAS, Enggartiasto memberikan apresiasi karena perusahaan di Kudus itu telah membuat trobosan dalam meningkatkan efensiensi teknologi penyimpanan sayuran terutama bawang merah. Menurutnya, teknologi CAS sudah bisa diterapkan di Indonesia. “Teknologi ini bisa diterapkan. Tadi sudah dibuktikan,” ungkapnya usai meninjau teknologi CAS, Sabtu (20/5/2017).

Dia menjelaskan, teknologi CAS merupakan inovasi teknologi penyimpanan hortikultura terutama untuk menyimpan bawang dan cabai. Di Indonesia, menurut Enggartiasto, harga bawang dan cabai cenderung naik dan turun, sehingga petani dan konsumen selalu dirugikan.

Menurutnya, beberapa kali dirinya bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ditegur serta diingatkan Presiden Joko Widodo untuk mencari solusi agar produksi bawang dan cabai stabil. Selain itu juga mencari solusi agar harga bawang dan cabai bisa dikendalikan. “Kalau pun ada kenaikan atau turun masih dalam range yang sudah diperhitungkan. Hal tersebut supaya petani tidak jatuh,” jelasnya.

Selama ini, lanjut Enggartiasto, saat panen tiba, stok panen bawang dan cabai berlebih hingga membuat harga jatuh. Namun jika ingin ekspor pun barangnya terbatas. Hal tersebut di antaranya juga dipengaruhi tidak adanya penyimpanan bawang dan cabai. Menurutnya, masyarakat masih menggunakan cara tradisional yang tidak mampu menyimpan bawang dan cabai dengan jangkan waktu lama.

“Teknologi CAR ini bisa menjadi pilot project dan hanya butuh akreditasi saja. Nanti saya coba lihat-lihat anggaran di Disperindag Jateng (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah). Nanti Brebes ada satu,” tambahnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Vice Plant Manager PT Pura Agro Mandiri, Agung Subani menuturkan, teknologi CAS yakni mesin pengawet komoditas sayuran terutama untuk cabai dan bawang merah. Alat tersebut menurutnya dapat mengontol kelembapan, RH, O2, CO2, N2 dan Ethylene (C2H4). “Teknologi CAS mampu menyimpan hingga jangka waktu antara tiga hingga enam bulan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, alat tersebut memiliki dimensi 6,8 x 4,8 x 3,1 meter. Alat tersebut mampu menampung sayuran dan hasil bumi lainnya hingga 100 meter kubik. Untuk mengoperasikan alat tersebut dibutuhkan 15 KW 380 Volt 3 Phase.

Dia mengeklaim, meski bawang dan cabai sudah disimpan selama tiga hingga enam bulan, kualitas dan kesegaran akan tetap terjaga. Selain itu, harga jual komoditas pun dipastikan stabil. Agung Subani membandingkan, dengan model penyimpanan secara konvensional, susut komoditas mencapai 35 persen. Sedangkan menggunakan teknologi CAR hanya 10 persen.

“Untuk biaya penyimpanan pun juga terjangkau. Sehingga banyak kelompok petani bawang merah yang dipastikan tertarik,” tambahnya.