Meski Berlatih Singkat, Anak Berkebutuhan Khusus Al-Achsaniyyah Terampil Mainkan Rebana

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Suara rebana terdengar menggema dari dalam musala Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Desa Pedawang,  Kecamatan Bae, Kudus. Rebana itu dimainkan delapan orang berbaju koko putih dan bersarung. Mereka tampak terampil membawakan lagu berjudul “Kota Kudus”. Delapan orang tersebut merupakan santri berkebutuhan khusus yang baru beberapa bulan berlatih rebana.

Santri Ponpes Al-Achsaniyyah bermain rebana 2017_5
Santri Ponpes Al-Achsaniyyah bermain rebana. Foto: Imam Arwindra

Di Pondok Pesantren Al-Achsaniyah para anak didik berkebutuhan khusus dibimbing untuk menjadi anak yang mandiri. Selain mendapatkan terapi, pendidikan agama dan formal, anak mereka juga diberi materi kesenian, termasuk rebana.

Satu di antara santri yang ikut belajar rebana yakni Aldena Akmal Valencia Rizqi (14). Kepada Seputarkudus.com dia mengaku baru tiga bulan belajar rebana. Menurutnya, sudah ada lima lagu yang dikuasai bersama rekan-rekannya. Selama belajar rebana, dirinya mengaku tidak menjumpai kesulitan yang berarti. Dia mengaku lebih senang memegang alat jidor ketimbang peralatan rebana lainnya.

“Saya sudah bisa lima lagu, ‘Kota kudus’, ‘Ya Rahman Ya Rakhim’, ‘Sluku-Sluku Batok’, ‘Assalamualaika Ya Rasulallah’, ‘Kisah Sang Rasul’,” tuturnya saat ditemui usai kegiatan rebana di pondok pesantrennya, beberapa waktu lalu.

Akmal mengaku selama dua tahun tinggal di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah, juga belajar mengaji Al-Quran, Asmaul Khusna dan salat. Pada bulan Ramadan, Akmal juga melakukan ibadah puasa sehari penuh. Dirinya mengaku betah tinggal di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah. “Saya di sini supaya pintar,” tuturnya yang berasal dari Cepu, Blora.

Hal senada juga diungkapkan Muhammad Kautsar Hendriko (23). Dia yang sudah tinggal satu tahun di pondok mengaku merasa senang dan ingin segera lulus. Selama tinggal di pondok, dia menuturkan sudah diajari untuk mandiri, belajar agama, salat dan mengaji. Serta tidak lupa berlatih seni rebana.

Dalam tim rebana, dirinya mengaku bertugas menjadi vokal. Hendriko menuturkan sudah bisa menguasai lima lagu yang siap ditampilkan bersama group rebananya. Lagu Dia mengaku sudah terbiasa melantunkan lagu-lagu pop dan qosidahan. “Lagunya (lagu rebana) mudah untuk dipahami,” tutur anak asal Yogjakarta tersebut.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Mohammad Faiq Afthoni menuturkan, di pondok terdapat 92 anak berkebutuhan khusus. Selama tinggal di pondok mereka diajari untuk mandiri, belajar pendidikan agama dan seni. Seni yang diajarkan di antaranya musik dan rebana. “Di sini ada kelas kejuruan kecil dan besar, SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa) pendidikan agama, musik, olahraga dan rebana,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk berkebutuhan khusus yang ikut rebana untuk mereka yang sudah bisa mandiri. Di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah, terdapat 11-15 anak yang sudah mandiri. Diceritakan, mereka sudah pernah tampil saat ada lomba antar desa di Desa Pedawang bulan lalu. Dengan adanya siswa rebana, Faiq berharap anak-anak didikanya dapat menjadi lebih mandiri dan bisa melakukan syiar agama islam. “Ini vokalis lagunya juga sudah banyak lagu yang dikuasai,” tambahnya.

Selama bulan Ramadan, di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah ABK juga diajari untuk belajar mengaji dan salat. Khusus untuk anak yang sudah mandiri mereka diberi tambahan tadarus dan salat Tarawih. Anak-anak tersebut menurut Faiq juga wajibkan untuk puasa. Menurutnya, dari 15 anak tersebut puasanya mampu sampai Maghrib. “Jadi mereka kami ajari untuk berpuasa. Untuk sahur dan bukanya bersama-sama,” tambahnya.