Meski Sempat Dihentikan Bupati, Gunadi Lega Teatrikal Visualisasi Dandangan Berjalan Lancar

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Alunan musik terdengar mengiringi visualisasi tradisi Dandangan di Alun-alun Kudus, Jumat (26/5/2017) sore. Terlihat dua orang memerankan pedagang yang dikerumuni pembeli. Pedagang tersebut tampak saling berebut pelanggan. Tak berapa lama kemudian, Bupati Musthofa sempat menghentikan pertunjukan itu. Selain bertanya tentang maksud pertunjukan, dia juga memberi masukan untuk memberi prolog terlebih dahulu agar penonton bisa paham.

Visualisasi Dandangan di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Visualisasi Dandangan di Simpang Tujuh Kudus. Ahmad Rosyidi

“Pokoknya hati-hati yang pentas, karena akan saya komentari terus. Kalau saya tidak paham, akan saya tanyakan. Mumpung saya masih menjadi Bupati belum Gubernur,” terangnya yang disambut dengan tepuk tangan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kudus yang ikut menghadiri kegiatan tersebut.

Gunadi Siswo Nugroho (48), selaku sutradara pementasan visualisasi dhandhangan bertajuk “Rampak Bedhug Dhandhangan” tersebut, menjelaskan ada sedikit miskomunikasi antara narator yang menggunakan Bahasa Jawa. Menurutnya sudah cukup jelas, tetapi ada sedikit bagian yang mungkin kurang dipahami penonton. Tetapi secara keseluruhan berjalan dengan lancar.

“Tadi memang sempat dihentikan Pak Bupati. Mungkin ada sedikit miskomunikasi karena naratornya menggunakan Bahasa Jawa. Persiapan kami singkat, hanya sembilan hari. Menurut saya, untuk sebuah karya memang cukup dipaksakan,” jelasnya kepada Seputarkudus.com usai acara.

Pria yang akrab disapa Gunadi itu juga menjelaskan, pementasan tersebut bercerita tentang Kudus zaman dahulu. Saat Sunan Kudus hendak menabuh bedug tanda awal Ramadan, banyak masyarakat Kudus yang hadir menyaksikan. Karena ada keramaian, kemudian mengundang pedagang untuk berjualan.

“Tadi diujung pementasan ada adegan melihat hilal, kemudian dilaporkan kepada ulama. Kami tidak berani memerankan Sunan Kudus, jadi kami simbolkan para ulama. Tadi juga ada pedagang mainan otok-otok, kodok-kodokan. Selain itu juga ada lentog, legen, dawet, mewakili makanan tradisional,” ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan, pementasan tersebut antara perpaduan eandratari dan teater, tetapi lebih dominan sendratari. Gunadi juga menambahkan, pementasan tersebut melibatkan sejumlah kelompok teater yang ada di Kudus. Di antaranya, Teater Samar, Teater Tiga Koma, Teater Sekam, Teater Gatang, Teater Tali Jiwa, Teater Sembilan.

“Selain itu ada juga Komunitas Kansu dan Komunitas Pojok Kidul. Kami juga dibantu sanggar tari Ciptaning Asri dan Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP),” tambah warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus itu.