Orion Tak Akan Lupa Saat Diusir Satpam Saat Pengambilan Gambar Film Bintang di Langit Jakarta

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Puluhan anak terdiam saat lampu di Gedung MWC Bae, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Sabtu (6/6/2017) malam, dimatikan. Tak lama berselang, pada layar putih di depan mereka menampilkan film Bintang di Langit Jakarta. Mereka tampak khidmat menyaksikan film yang disutradarai Tsaqiva Kinasih dan diproduksi Omah Dongeng Marwah tersebut.

Pemutaran perdana film Bintang di Langit Jakarta 2017_5
Pemutaran perdana film Bintang di Langit Jakarta. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai pemutaran film, terlihat seorang pria berkaus berwarna orange membawa kamera DSLR di tangannya. Dia adalah Orion Bima Wicaksana (15), kameramen dan editor film tersebut. Orion begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamanya dalam proses pembuatan film.

Dia mengungkapkan, ada satu momen yang tidak terlupakan saat proses shooting film tersebut. Dia mendapat banyak pengalaman dan teknik-teknik baru, tetapi ada satu momen yang membuatnya merasa bersalah dan itu juga menjadi pengalaman berharga baginya.

“Saat shooting di sebuah gedung, kami sembunyi-sembunyi naik ke atas mencari spot yang bagus. Saat saya sudah menyiapkan kamera dan memasang tripod, ada satpam yang marah-marah mengusir kami. Karena saya takut, jadi saya kemasi dan kabur ke mobil,” terangnya usai pemutaran perdana film itu.

Karena langsung pergi masuk ke mobil, Orion dimarahi Tsaqiva Kinasih. Seharusnya dia masih bisa mengambil video saat satpam itu sedang melakukan negosiasi dengan sutradara yang didampingi seseorang yang membantu proses pembuatan film.

“Momen itu yang membuat saya merasa bersalah, karena melewatkan kesempatan. Padalah pemandangannya sangat bagus dari atas gedung itu,” jelas anak pertama dari dua bersaudara itu.

Menurutnya, banyak momen menarik saat proses shooting, termasuk cerita tentang adiknya, Radian Pasha Bimantara, yang menjadi aktor dalam film tersebut. Ada adegan yang natural, saat shooting hingga larut malam dan adiknya ketiduran. Karena adiknya biasa marah saat dibangunkan, kemudian mereka memanfaatkan momen tersebut agar mendapat momen yang natural.

“Saat adegan adik saya dibangunkan dan diberi minum tetapi tidak mau, itu natural karena memang dia tidur sungguhan. Kalau di rumah dia memang susah dibangunkan, kadang juga sampai ngamung-ngamuk. Untuk pembuatan film ini kami membutuhkan proses kurang lebih selama empat bulan, dan semua berjalan dengan lancar,” tambah warga Desa Panjang, Bae, Kudus.