Panggah Angkat Kisah ‘Jeglongan Sewu’ di Grobogan Saat Tampil di Festival Pertunjukan Rakyat

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Sejumlah orang terlihat sedang berkemas di sebuah ruangan di Taman Budaya Kudus, usai pentas di acara Seleksi Pertunjukan Rakyat, Selasa (16/5/2017) siang. Mereka adalah komunitas Mosatika, peserta wakil dari Kabupaten Grobogan. Satu di antara mereka yakni Panggah Rudhita (27), yang menyutradarai pertunjukan yang baru saja ditampilkan. Dalam seleksi itu, dia mengangkat cerita dari persoalan yang erat dengan masyarakat.

Penampilan peserta seleksi Festival Seni Pertunjukan di Kudus 2017_5
Penampilan peserta seleksi Festival Seni Pertunjukan di Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Panggah, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang naskah yang mereka pentaskan dalam acara yang digelar Dinas Komunikasi Dan Informasi (Diskominfo) Kudus. Dalam acara seleksi Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) tingkat Kabupaten dan Kota tersebut, dia juga mengangkat hal-hal yang pernah dialami keluarganya.

Baca juga: Diskominfo Kudus Kali Pertama Gelar Acara Seleksi Pertunjukan Rakyat

“Pertunjukan kami berjudul Kapatuh, yang artinya kebiasaan. Kami mengangkat cerita tentang program pemerintah Jawa Tengah, bebas jalan berlubang. Sesuai dengan persoalan yang dekat dengan masyarakat Grobogan. Tadi juga ada cerita tentang seorang bapak yang pulang terlambat karena macet dan dimarahi istrinya. Itu cerita bapak saya sendiri,” ungkap pria asli Grobogan itu, usai tampil.

Selain terinspirasi kisah bapaknya, dia juga menyampaikan ceritan tentang kakeknya yang meninggal saat perjalanan ke rumah sakit. Karena terjebak di jalan rusak, atau masyarakat sering menyebutnya sebagai “jeglongan sewu“, kendaraan yang membawa kakeknya tidak bisa melaju cepat sehingga terlambat sampai.

Panggah menjelaskan, Mosatika beranggotakan 12 orang. Mereka datang dari banyak latar belakang seni. “Anggota kami ada yang dalang, penyanyi campursari, penari tayub, pemain ketoprak, dan pemusik. Persiapan kami untuk acara iini cukup singkat, hanya 10 hari. Semua yang kami persiapkan sudah berjalan dengan lancar. Tapi ada sedikit kendala pada penataan sound system, sehingga suara saat pementasan kurang terdengar,” keluhnya.

Panggah menjelaskan, dirinya ikut FK Metra mulai tahun 2014, dan ini ketiga kalinya dia menjadi sutradara sejak tahun 2015. Panggah menambahkan, pada tahun 2015 dan 2016 komunitasnya masuk ke final, tahun 2015 menjadi pemenang kedua dan tahun 2016 pemenang ketiga, tingkat Jateng. Dia berharap tahun depan sudah ada generasi baru yang melanjutkan FK Metra Grobogan.

Nanang Usdiarto (56), satu diantara panitia penyelenggara, menjelaskan, pelaksanaan seleksi yang ada di Kudus diikuti 12 peserta dari perwakilan FK Metra kabupaten dan kota. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga untuk mendorong pegiat kesenian tradisional di Jawa tengah agar lebih berkembang.