Sebulan Terjual Puluhan Ribu Batang Karena Jamari Hanya Jual Bambu Berkualitas dan Murah

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Beberapa orang tampak berada di antara tumpukan batang bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Mereka ada yang menaikan batang bambu ke atas mobil bak terbuka, ada pula yang memilih bambu dan dikumpulkan sesuai ukurannya. Sementara sebagian lainnya ada yang membuat perkakas dari bambu. Di tempat penjualan bambu tersebut, puluhan ribu batang bambu terjual dalam sebulan.

Tempat penjualan bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus 2017_5
Tempat penjualan bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Jamari, pemilik usaha penjualan bambu tersebut, mengatakan, menjual bambu berbagai ukuran dengan harga yang relatif murah. Menurutnya, harga bambu yang dia jual tergantung ukuran besar atau kecil bambu. Untuk yang paling kecil dijual dengan harga Rp 3 ribu sebatang, ada juga yang Rp 5 ribu, Rp 7 ribu, Rp 8 ribu, Rp 10 ribu hingga yang paling mahal Rp 20 ribu sebatang.

Baca juga: Jual Sepeda Ontel untuk Berjualan Bambu, Kini Jamari dan Istri Sudah Naik Haji dan Umroh 3 Kali

“Harga tersebut untuk penjualan ecer, sedangkan untuk pembelian dalam jumlah banyak harga tersebut masih bisa berkurang. Apalagi untuk pembangunan masjid, musala maupun tempat ibdah lainnya harga bisa kami kurangi. Selain berjualan kami juga tetap ingin beramal,” jelas Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang sudah dikaruniai tiga cucu itu mengungkapkan, untuk pembelian ecer ongkos pengiriman ditanggung oleh pembeli. Sedangkan pembelian dalam jumlah banyak minimal 19 batang, bambu akan dikirim sampai alamat yang tertera dalam nota. Diakuinya saat ini sudah memiliki banyak pelanggan. Selain untuk proyek beberapa kali dia mengirim bambu untuk pembuatan kandang ayam.

“Pelanggan kami itu sudah banyak. Bahkan beberapa proyek di Kudus, Pati, Jepara, sampai Lasem itu beberapa kali membeli bambu ditempatku. Selain itu kami juga sering mengirim bambu untuk kandang peternakan ayam di Kudus, Pati, dan daerah lainnya. Karena selain murah bambu yang kami jual juga berkualitas bagus,” ujarnya.

Jamari mengaku sebisa mungkin menjaga kepercayaan pelanggan dengan selalu memberikan bambu yang bagus meski pembeli tersebut tidak bisa datang ke tempatnya. Dia juga mengaku tidak takut rugi saat bambu yang jelek tidak laku. Dia punya solusi agar bambu yang kurang bagus tapi tetap laku terjual.

“Bambu dengan kualitas kurang bagus pasti selalu tersisih dan tidak dipilih oleh pembeli. Karena itu aku berinisiatif bambu tersebut aku buat sesek yang aku jual dengan harga Rp 23 ribu. Lumayan peminatnya banyak juga kok. Bahkan beberapa kali aku mendapatkan pesanan dalam jumlah banyak,” ungkap Jamari sambil memegang kerajinan sesek.

Dia menceritakan, usaha penjualan bambu tersebut dirintis pertama kali oleh istrinya, sejak tahun 1989 silam. Lokasinya berjualan saat ini bukanlah tempat awal istrinya berjualan bambu. Menurutnya sejak pidah ke tempat yang sekarang, penjualan bambu meningkat drastis. Karena sebelum pindah untuk menghabiskan satu truk yang berisi 400 batang bambu memerlukan waktu sepekan hingga 10 hari.

“Sejak pindah lokasi itu, aku mulai ikut berjualan. Memang kami akui sejak berjualan di tempat sekarang derajat kami seakan terangkat. Dulu istriku bisa menjual 400 batang bambu sepekan itu sudah bagus. Namun sejak pindah lokasi dan aku ikut berjualan, Alhamdulillah sekarang kami bisa menjual bambu 25 truk sebulan. Dan setiap satu truknya berisi sekitar 800 batang bambu. Jadi totalnya, kami bisa menjual sekitar 20 ribu batang bambu sebulan,” ungkapnya.