Usaha Tegelnya Tutup, Sartono Agbas Dirikan Usaha Produksi Sirup Popi, Kini 800 Botol Terjual Sehari

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat jalan Desa Getas Pejaten No 54, Kecamatan Jati, Kudus, tampak Rumah Makan Gentong Sehat. Di samping rumah makan tersebut ada bangunan mirip gudang yang  di dalamnya beberapa orang tampak sibuk mengemas sirup. Mereka berbagi tugas, sebagian ada yang mengisi sirup ke dalam botol dan sebagiannya lainnya menutup dan memberi segel botol yang sudah terisi. Tempat tersebut merupakan tempat produksi Sirup Popi yang dirintis sejak 1985.

Nickal Agbas, generasi kedua Sirup Popi dan Kecap Basela, Kudus 2017_5
Nickal Agbas, generasi kedua Sirup Popi dan Kecap Basela, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Nickal Agbas (35), Manajer Pemasaran Baston Food, mengungkapkan, Sirup Popi dirintis ayahnya, Sartono Agbas (63), pada tahun 1985. Menurutnya, sebelum membuka usaha produksi sirup ayahnya memiliki usaha pembuatan tegel. Selain menekuni usahanya tersebut, ayahnya juga menjadi penyuplai gula pasir ke perusahaan sirup di Jakarta dan Surabaya.

Baca juga: Sirup Popi, Produk Baston Food Kudus yang Dibuat dari Gula Asli dan Tanpa Pengawet

“Dari usaha sambilan itu, ayahku terbersit ide untuk membuka usaha pembuatan sirup. Dan Karena usaha tegelnya mulai kalah bersaing dengan produk keramik di pasaran, ayahku pun memutuskan menutup usaha tegelnya. Beliau kemudian menginvestasikan modalnya untuk membuka usaha pembuatan sirup yang diberi nama Sirup Popi, yang produksinya di bawah naungan Baston Food,” ujar pria yang akrab disapa Nick kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Putra pertama dari Sartono Agbas itu mengungkapkan, saat itu ayahnya dibantu ibunya untk membuat sirup berkualitas dengan rasa yang enak agar diminati banyak orang. Menurutnya, kedua orang tuanya berbagi tugas. Ayahnya mendapat tugas memilih bahan baku sirup berkualitas yang sudah menjadi keahlian beliau. Sementara ibunya bertugas meracik aneka bahan tersebut agar menjadi sirup berkualitas bagus.

Untuk pemasaran sirup, tuturnya, ayahnya merekrut tenaga pemasaran yang diterjunkan ke beberapa pasar tradisional di semua wilayah Karesidan Pati. Saat itu untuk mengenalkan Sirup Popi kepada masyarakat luas, produk sirup dititipkan kepada para pedagang di pasar tradisional dengan sistem laku terjual baru bayar. Tapi diakuinya, agar Sirup Popi dikenal masyarakat luas ayahnya membutuhkan waktu sekitar lima tahun.

Alhamdulillah dengan kerja keras ayahku dan tim produksi maupun pemasaran sekarang Sirup Popi sudah dikenal banyak orang di wilayah Karesidenan Pati. Kini dengan banyaknya peminat, para pedagang setiap membeli Sirup Popi pasti bayar cash. Karena mereka percaya dengan kualitas sirup produksi kami dan pasti laku terjual,” ujarnya mantab.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, kini Baston Food mampu menjual Sirup Popi sekitar 800 botol sehari. Saat Bulan Ramadan jumlah penjualan bisa naik hingga tiga kali lipat. Menurutnya, Sirup Popi dijual seharga Rp 17 ribu per botol dengan isi 620 mililiter. Harga tersebut pembelian dengan botol. Saat pembelian tanpa botol harga dikurangi Rp 1 ribu per botol.

“Sirup Popi diproduksi dengan berbagai varian rasa yakni, frambose, melon, nanas, jeruk, leci, jambu biji, coffee moca, kawis, dan rosen. Ada juga Sirup Popi dengan rasa jahe. Alhamdulillah dari sekian banyak rasa tersebut semua digemari para pelanggan. Semoga usaha kami makin berkembang dan Sirup Popi makin diminati banyak orang dan menjangkau pasar lebih luas lagi,” ujarnya.