Usaha yang Dirintis Bersama Temannya Gagal, Frans Bangkit Buka Digital Printing Modal Kredit

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah ruko dengan pintu kaca. Di dalam terlihat beberapa orang mengoperasikan perangkat komputer. Di ruang lain dua pekerja sedang mengoperasikan mesin cetak berukuran besar. Di samping kedua orang tersebut terlihat seorang pria mengenakan kaus lengan panjang warna biru, sedang mengawasi proses percetakan. Pria tersebut yakni Frans (34), pemiliki Franz Printing.

Frans, pemilik usaha Frans Printing, Jl Kudus-Purwodadi, Tanjung Karang, Jati 2017_5
Frans, pemilik usaha Frans Printing, Jl Kudus-Purwodadi, Tanjung Karang, Jati. Foto: Rabu Sipan

Sembari mengawasi proses percetakan, Frans sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha di bidang digital printing pada tahun 2012. Namun sebelum memiliki usaha tersebut, dia pernah kerjasama dengan temannya untuk membuka usaha pada bidang yang sama. Namun sayang, kerjasama tersebut gagal.

“Sebenarnya aku terjun di dunia usaha digital printing itu sejak tahun 2007. Pada tahun itu aku diminta kerabatku untuk mengelola usaha digital printingnya di Kudus. Namun setelah menikah pada tahun 2011, aku memutuskan membuka usaha serupa. Tapi usahaku tersebut hanya berumur sepekan, karena saat itu aku tergiur tawaran seorang teman untuk kerjasama di bidang usaha yang sama. Sayangnya kerjasama tersebut ada masalah hingga kami pecah kongsi,” ujar Frans saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Tanjung Karang, Jati, Kudus itu mengungkapkan, untuk melanjutkan usahanya tersebut dirinya membeli mesin cetak seharga Rp 300 juta. Karena keterbatasan modal, pembelian mesin tersebut dibelinya secara kredit. Kebetulan saat itu ada orang Jakarta yang percaya padanya untuk membeli mesin cetak.

“Intinya orang Jakarta itu percaya padaku. Kan memang membuka usaha itu harus saling percaya, karena kepercayaan itu sangat penting,” tandas pria keturunan Tionghoa tersebut.

Pria yang baru dikaruniai seroang putri itu mengatakan, Frans Printing melayani cetak baner dengan tarif Rp 16 ribu hingga Rp 75 ribu per meter. Untuk stiker ditarif Rp 75 ribu per meter, sedangkan ID card biayanya Rp 5 ribu per pcs untuk pemesanan minimal 24 pcs. Tapi pesanan ID card kurang dari 24 pcs dihargai Rp 20 ribu per pcs.

Selain itu, katanya, Frans Printing juga melayani cetak kartu nama, undangan, cetak foto dan lainnya. Dia menuturkan, untuk mempromosikan usahanya tersebut, pada awal merintis dirinya berkeliling ke beberapa instansi pendidikan, perusahaan dan resto di Kudus untuk mengajukan penawaran. Menurutnya, responnya sangat bagus.

“Dengan kualitas hasil cetak yang istimewa, tapi harga yang sangat terjangkau dan masih bisa dinego. Untuk pengerjaan cetak di Frans Printing juga relatif singkat, karena setengah hari jadi. Datang pagi siang bisa diambil, begitu juga saat pelanggan pesan siang hari, malamnya sudah bisa diambil,” jelas Frans.

Frans Printing, katanya, buka mulai pukul 8.30 WIB sampai 19.30 WIB. Dengan pelayanan dan kualitas yang diberikan tersebut, kini Frans Printing sudah memiliki banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya tidak hanya dari Kudus melainkan ada yang dari Semarang, Purwodadi, Demak, Bandung, Jakarta, dan lainnya. “Biasanya orang yang sudah mencetak di Frans Printing, pasti terus menjadi pelanggan tetap,” ujarnya.