Vivi Pejamkan Mata Saat Naik Ojek Colo Usai Berziarah ke Makam Sunan Muria

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Suara kenalpot motor Yamaha King terdengar keras dari arah jalur ojek Makam Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Mengenakan rompi warna biru, para tukang ojek terlihat sangat lihai menyusuri jalanan aspal yang naik turun dan berkelok dari pangkalan menuju Makam Sunan Muria. Para peziarah yang membonceng tak jarang harus memegang handle jok motor kuat-kuat. Bahkan ada peziarah yang memanfaatkan jaket yang tukang ojek untuk pegangan.

Peziarah naik ojek menuju Makam Sunan Muria, Kudus 2017_5
Peziarah naik ojek menuju Makam Sunan Muria, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Vivi Mega Linda (23), satu di antaranya peziarah yang menggunakan jasa ojek tersebut. Dia ke Makam Sunan Muria bersama tiga orang temannya. Dia mengaku menutup mata saat membonceng ojek usai berziarah menuju tempat parkir kendaraan. Dia mengaku merinding saat saat motor ojek melaju kencang. “Serem banget,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Dia mengakuk sangat takut saat sesekali melihat jalan terjal dan sisi kiri dan kanannya curam. Selain lebih banyak menutup mata, dirinya juga tak lupa berpegangan jaket tukang ojek. Vivi mengaku baru pertama kali menaiki ojek di sana. “Ini baru pertama kali. Huh, tapi menyenangkan. Saya sudah percaya abang ojek sudah menguasai medan” tuturnya sambil tertawa.

Saat menuju makam, perempuan kelahiran Medan itu lebih memilih menaiki tangga. Menurutnya, kurang lengkap jika tidak mencoba ratusan anak tangga untuk menuju ke makam. “Wah tadi ngos-ngosan. Saya sempat mau menyerah, namun akhirnya sampai juga,” tambahnya.

Vivi yang kini tinggal di Semarang mengaku sangat menikmati pemandagangan puluhan pedagang yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju makam. Selain menjual makanan dan buah khas Pegunungan Muria, ada juga pedagang yang menjual sovenir, pakaian dan pernak-pernik. “Tadi saya sempat beli Parijoto. Ini buahnya. Rasanya asam, saya kira manis,” tuturnya.

Sementara itu, tukang ojek Muria Fitriyanto (29) menuturkan, orang yang baru pertama kali naik ojek kebanyakan takut. Hal itu tak lepas dari kondisi jalan yang terjal dan jurang yang curam di sisi kanan dan kiri jalan. Namun pengunjung tak perlu khawatir, karena menurutnya, tukang ojek yang kebanyakan warga sekitar sudah terlatih. “Pokoknya aman,” tuturnya.

Selama lima tahun bekerja sebagai tukang ojek, dia tidak pernah jatuh. Namun pernah ada rekannya yang jatuh karena kurang konsentrasi. Menurutnya, para tukang ojek harus pada kondisi yang sehat agar bisa melayani pengunjung yang ingin berziarah ke Makam Sunan Muria.

Selama musim ziarah menjelang Ramadan, kata Fitriyanto, setiap hari dirinya mendapat uang Rp 200 ribu. Pada akhir pekan pendapatannya akan bertambah menjadi Rp 500 ribu.