Warga Jepara Ini Kesal Karena Kalah Keren dari Sujiwo Tejo

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Sejumlah orang terlihat mendekat dan meminta swafoto saat Sujiwo Tejo tiba di Arjuna Resto, di Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Bae, Kudus, Selasa (9/5/2017) malam. Tampak seorang pemuda bertopi hitam muncul dari belakang Sujiwo Tejo kemudian meminta foto. Dia adalah Muhammad Ghofurrur Rohim (27), yang datang ke acara Tajug Syahadat ke-5 dengan tema “Ngaji Kitab Tuhan Maha Asyik”.

Gopunk (kanan) bersama Sujiwo Tejo saat hadir pada Tajug Syahadat 2017_5
Gopunk (kanan) bersama Sujiwo Tejo saat hadir pada Tajug Syahadat,. Foto: Ahmad Rosyidi

Gopunk, begitu Muhammad Ghofurrur Rohim akrab disapa, mengaku tertarik untuk datang ke acara tersebut karena ada Sujiwo Tejo. Menurutnya, budayawan yang mendapat predikat Presiden Jancuker itu adalah orang yang bebas.

Baca juga: Presiden Jancuker Sujiwo Tejo: Jangan Pernah Lakukan Sesuatu dengan Kebencian!

“Sujiwo Tejo kan orang yang bebas, sak penake dewe, unik. Kadang saya juga ingin mengikuti beliau yang hidupnya santai, tidak ada beban. Tapi saya masih belum bisa sebebas beliau, saya cuma berusaha santai menjalani hidup ini. Sebenarnya saya serik pada beliau, karena lebih keren daripada saya,” ujar warga Desa Menganti, Kecamatan Kedung, Jepara itu, sambil tertawa.

Dia mengaku senang bisa foto selfie barsama Sujiwo Tejo. Dan ini kelima kalinya Gopunk menghadiri acara diskusi dengan narasumber Sujiwo Tejo. Dia tertarik dengan pembawaan dan perkataan Sujiwo Tejo yang tidak wajar. Hal itu menjadikan dirinya merasa semakin tertarik.

“Ini yang kelima kalinya saya menghadiri acara dengan pembicara Mbah Jiwo. Menurut saya, hal yang menarik dan membuat saya ingin datang adalah perkataannya yang dalam,” ungkap pria yang dikaruniai satu anak itu.

Sujiwo Tejo dalam diskusi mengungkapkan, Tuhan itu maha asyik. “Kita kan bisa berdoa dengan cara yang asyik. Tuhan, saya ini sudah belajar dengan maksimal, mbok ya dikasih nilai yang bagus. Begitu kan asyik, tidak monoton,” terangnya.

Sementara itu, narasumber yang juga hadir dalam acara tersebut, Anis Ba’asyin, menambahkan, asyik itu ketika seseorang merindukan dan dirindukan.

“Seperti saat kita setelah salat, kita salam kekanan dan kekiri. Kita salam kekanan dengan semua kebaikan, dan kita juga salam kekiri dengan semua keburukan. Karena baik dan buruk semua kehendak Tuhan,” jelasnya.