Warga Pati Ini Lebih Mengenal Kudus sebagai Kota Kretek Ketimbang Kota Santri

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah orang tampak berkerumun di pintu masuk Emerald Room lantai dua Hotel Griptha Kudus. Mereka adalah peserta diskusi Menguatkan Kudus Kota Santri. Tak beberapa lama, acara dimulai, dan seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Satu di antara puluhan peserta yang hadir, yakni Siti Aminah (20).

ISNU gelar diskusi Menguatkan Kudus Kota Santri di Hotel Griptha 2017_5
ISNU gelar diskusi Menguatkan Kudus Kota Santri di Hotel Griptha. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku tertarik dan antusias untuk mengikuti kegiatan karena acara itu mendiskusikan sebutan Kudus yang telah lama tidak disebut, yakni Kudus sebagai Kota Santri. Bagi dirinya, kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bekerjasama dengan Ftayat NU dan T-IPS Tarbiyah STAIN Kudus, itu memang perlu dilakukan.

“Saya tertarik karena tema pembahasannya. Menurut saya perlu disuarakan kembali Kudus sebagai Kota Santri. Karena saya yang bukan warga Kudus, lebih mengenal Kudus sebagai Kota Kretek,” jelas warga Pati yang kini kuliah di STAIN Kudus, Rabu (17/5/2017) malam.

Dia juga mengngkapkan, acara tersebut sangat menarik karena banyak pendapat dari berbagai sudut pandang. Selain itu juga banyak pendapat dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda-beda. Hal itu membuat diskusi menjadi menarik dan membuat Aminah tidak jenuh dalam forum.

Dalam acara tersebut, sejumlah tokoh hadir menyemarakkan acara diskusi. Sejumlah peserta di antaranya pimpinan dan aktivis NU, Muhammadiyah, MUI, tokoh STAIN dan UMK, serta tokoh lintas kelembagaan.

Sri Hartini, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, dalam diskusi mengungkapkan, untuk menguatkan Kudus sebagai Kota Santri dinilai perlu dilakukan. Menurutnya, dulu santri identik dengan sesuatu yang kuno dan tidak menjaga kebersihan. “Santri itu identik dengan gudiken, jadi perlu adanya perubahan dengan menjaga kebersihan, agar tidak identik dengan kuno. Sehingga sebutan Kudus Kota Santri akan diangkat kembali,” terangnya dalam diskusi.

Sedangkan menurut Ilwani, anggota DPRD Kudus, mitos makam Sunan Kudus melengserkan jabatan itu tidak benar. Untuk menguatkan Kudus Kota Santri, dinilai perlu menegaskan mitos tersebut tidak benar. Hal itu perlu dilakukan agar pejabat tidak takut berziarah. “Buktinya saya ziarah malah naik jabatan, jadi itu tidak benar,” jeasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Akhwan Sukandar, mengungkapkan, budaya religius saat ini mulai tergerus oleh budaya modern. “Anak-anak yang dulu habis Maghrib ngaji, sekarang sudah ikut ibunya nonton televisi. Makanya perlu ada perubahan jika ingin mengangkat Kudus sebagai Kota Santri,” ungkap mantan komandan Banser itu.

Kisbanto (39), Ketua ISNU Kudus, menjelaskan, pihaknya mengangkat diskusi tersebut karena secara wacana Kudus sebagai Kota Santri kalah dengan Kudus sebagai Kota Kretek. Sehingga pihaknya menilai perlu ada dorongan dalam pendidikan menguatkan kembali Kudus sebagai Kota Kretek. “Kudus Kota Santri harus diteguhkan kembali melalui pendidikan dan budaya,” tegasnya.