Agar Identitas dan Sejarah Masjid Tak Hilang, Masjid Al-Huda Pertahankan Miniatur Menara Kudus di Atapnya

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Di tepi barat Jalan Sosrokartono Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus tampak masjid berlantai dua. Masjid yang didominasi warna putih tersebut atasnya dihiasi dua menara dan satu kubah. Terlihat dua menara yang tampak tinggi menjulang mengapit mustaka yang mirip dengan cukup di Masjid Menara Kudus. Masjid tersebut yakni Masjid Al Huda.

Masjid Alhuda Desa Panjang, Kudus 2017_6_3
Masjid Al-Huda Desa Panjang, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Muhammad Yahya (50), Nadzir Masjid Al-Huda, mengungkapkan, masjid yang dibangun pada tahun 1950 an tersebut sudah dipugar dua kali. Menurutnya, sejak awal dibangun dan saat pemugaran yang pertama, Masjid Al Huda memiliki cungkup dihiasi miniatur Menara Kudus dilengkapi dengan mustaka. Dan benda tersebut masih dipertahankan hingga sekarang.

“Meski dipugar dua kali dan termasuk pemugaran yang terakhir dengan merubah total bentuk dan desain, namun kami tetap sepakat untuk mempertahankan miniatur Menara Kudus lengkap dengan mustakanya. Agar identitas serta sejarah masjid tidak hilang,” ujar pria yang akrab disapa Yahya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Panjang, Bae, Kudus itu mengatakan, pemugaran terakhir dikarenakan masjid sudah tidak mampu menampung jamaah, serta ada beberapa bagian atap yang sudah rapuh. Karena alasan keselamatan dan saat itu masjid sudah ada kas sekitar Rp 200 juta, maka disepakati oleh semua masyarakat setempat agar Masjid Al-Huda dipugar total dengan bentuk yang modern.

“Untuk desain masjid kami percayakan pada saudara Afif warga Desa Besito, Gebog, Kudus.  Sedangkan biaya pembangunan masjid menghabiskan uang sekitar Rp 2,2 miliar. Dan Dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat setempat tanpa minta bantuan dari pihak luar,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski tidak pernah minta bantuan dan mengajukan proposal ke pihak luar, misalnya perusahaan maupun instansi pemerintah dan lainnya di Kudus, tapi tak jarang ada beberapa dermawan yang menyumbang. Karena tidak ingin menghalangi orang beramal, sumbangan tersebut tetap diterima panitia pembangunan masjid.

Dia mengatakan, pembangunan masjid berada di tanah wakaf seluas 800 meter persegi itu membutuhkan waktu sekitar setahun. Namun diakuinya dalam jangka waktu tersebut keadaan masjid belum sempurna. Bahkan sampai sekarang masih ada beberapa pembangunan ornamen untuk mempercantik bangunan Masjid Al-Huda.

Menurutnya, sekarang masjid sudah tampak lebih modern, dengan bentuk minimalis bercampur desain Timur Tengah, Masjid Al Huda terlihat megah. Lantai masjid juga beralaskan granit, lespang bagian dalam juga dipercantik dengan kaligrafi sebuah ayat suci. Begitu juga dengan dinding sekeliling pengimaman yang dipercantik dengan ornamen serta kaligrafi ayat kursi.

“Sekarang setelah dipugar dan diperbesar, Masjid Al-Huda sudah mampu menampung jamah salat Jumat dan salat Teraweh. Namun untuk Salat Idul Fitri dan Idul Adha jamaah tetap meluber hingga ke jalan,” ungkapnya.