Biasanya Reni Jual Soto, Saat Ramadan Jual Lauk, Omzet Sehari Rp 1,6 Juta

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Seorang permpuan tampak sedang menjajakan dagangannya di tepi Jalan Sosrokartono, Desa kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Sambil menata dagangannya di atas meja, sesekali dia juga melayani pemebeli yang datang. Perempuant tersebut bernama Sureni (57) penjual soto yang beralih menjual aneka lauk-pauk dan sayur mayur saat Ramadan.

Bu Reni jualan lauk saat Ramdan 2017_6_7
Bu Reni jualan lauk saat Ramdan. Foto: Rabu Sipan

Seusai memperisapkan dagangannya tersebut, perempuan yang akrab disapa Reni sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang dagangannya tersebut. Dia mengungkapkan, selain Ramadan dirinya berjualan soto. Namun sejak empat tahun lalu, setiap datang bulan puasa dia berjualan aneka lauk-pauk dan lainnya karena tidak sempat untuk berjualan soto.

“Sebenarnya banyak juga orang yang menanyakan soto, karena ingin makan soto buatan saya saat buka puasa. Namun karena keterbatasan tenaga saya tidak sempat untuk membuat soto. Menyiapkan dagangan lauk pauk dan sayur mayur saat menjelang Maghrib saja sudah kewalahan,” ujarnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Kaliputu, Kota, Kudus tersebut mengatakan, dirinya sudah berhitung kenapa lebih memilih berjualan lauk pauk daripada soto. Menurutnya, berjualan soto saat Ramadan ramai pembelinya juga pasti saat Maghrib. Sedangkan di sisi lain dia juga harus menyiapkan dan melayani mereka yang ingin membeli lauk pauk serta sayur mayur untuk berbuka puasa.

“Karena alasan itu aku harus memilih satu, dan aku lebih memilih menjual lauk pauk dan sayur mayur untuk mereka yang akan berbuk, karena pasti lebih banyak yang membutuhkan dan membeli,” ungkap Reni.

Perempuan yang dikaruniai tujuh anak dan tiga cucu tersebut mengatakan, menjual lauk-pauk di antaranya, berbagai macam botok. Ada botok teri, petet, udang, dan lain sebagainy yang dijual Rp 1500 perbungkus. Ada juga aneka pepes, di antaranya, pepes pindang di jual Rp 7500, pepes bandeng Rp 10 ribu, pepes kakap Rp 15 ribu, Pepes wader dan besusul masing-masing dijual Rp 2 ribu per bungkus.

“Selain itu aku menjual urak-arik teri , balado terong, begedel, opor ayam, panggang mangut garang asem dan lain sebagainya. Khusus garang asem aku jual dengan harga Rp 17 ribu per bungkus. Aku jual sayur lodeh, bening dan sayur asem. Semua lauk yang aku jual tidak sepenuhnya aku bikin sendiri, namun ada beberapa yang titipan dari orang lain,” jelasnya.

Dia mengatakan, selain lauk pauk dirinya juga menjual beberapa takjil di antaranya, kolak, koktail, jus sirsak dan tomat. Menurutnya, dari semua lauk pauk yang dijualnya tersebut setiap magrib selalu habis dibeli para pembeli. kalaupun tersisa paling beberapa bungkus saja.

“Namanya berjualan ada kalanya laris dan ada saatnya kurang laris. Saat laris aku mampu mendapatkan uang Rp 1,6 juta sehari. Terkadang juga mendapatkan uang Rp 1,2 juta. Tergantung barang jualanku, kalau banyak ya mendapatkan uang banyak, begitu juga sebaliknya. Karena hampir semua daganganku lumayan diminati para pembeli,” ujarnya.