Cerita Berliku Bless Collection, Salah Desain Hingga Ditinggal Sales

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Di tepi jalan gang Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di depan SD 2 Tumpang Krasak, tampak sebuah rumah bercat hijau. Di ruang belakang rumah tersebut tampak beberapa perempuan sedang sibuk dengan mesin jahit dan selembar kain. Tempat Rumah tersebut yakni tempat produksi aneka pakaian wanita dengan label Bless Collection.

Produksi gamis dan busana muslim di Bless Collection Kudus 2017_6_6
Produksi gamis dan busana muslim di Bless Collection Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Ning Fatimah, pengelola Bless Collection, sudi berbagi kisah tertang awal mula merintis usaha tersebut. Dia mengungkapkan, Bless Collection adalah sebuah label pakaian yang diproduksi serta dirintis oleh orang tuanya sejak 1983. Menurutnya, setelah menikah kedua orang tuanya langsung membuat usaha konveksi. Ibunya mampu membuat pola secara ototdidak dan bapaknya yang bertugas memasarkan pakaian hasil produksi.

Baca juga: Gamis Tapki Produksi Bless Collection Digadang Jadi Trend Seller Lebaran Tahun Ini

“Pakaian hasil produksi dari konveksi orang tuaku dipasarkan ayahku berkeliling ke beberapa daerah di Jawa Tengah, di antaranya Blora, Weleri, Pekalongan, Kendal dan daerah lainnya. Namun setahun produksi dan berjualan pakaian hasilnya impas, tidak untung dan tidak rugi,” ujar dara yang akrab disapa Ning tersebut beberapa lalau.

Warga Desa Tumpang Krasak, Jati, Kudus itu mengatakan, meski impas namun kedua orang tuanya tidak patah arang. Mereka tetap berkarya dengan memproduksi dan menjual aneka jenis pakaian perempuan. Hingga di tahun berikutnya, orang tuanya mampu mendapatkan hasil dari jerih payahnya dan mampu membangun rumah yang awalnya kepang menjadi tembok.

Setelah mampu membangun rumah, tuturnya, orang tuanya tetap memproduksi pakaian dan menjualnya seperti biasa berkelana dari daerah satu ke daerah lain. Namun sayangnya, pada tahun 1995 desain baju yang diproduksi ibunya tak sesuai pangsa pasar. Hal itu mengakibatkan stok barang melimpah dan tidak terjual dan punya utang ke toko kain sebanyak Rp 10 juta.

“Karena stok pakaian yang melimpah tersebut, ibuku meminta tolong tetangga yang kebetulan seorang sales pakaian yang tidak punya barang. Dengan modal kepercayaan sales tersebut bersedia menjual stok pakaian ke Nusa Tenggara Barat. Dan dalam tempao dua pekan, pakaian sebanyak tiga karung besar yang berisi 300 pcs habis terjual dengan pembayaran kontan,” ungkapnya.

Anak keempat dari lima bersaudara itu menuturkan, karena saling menguntungkan kerjasama pun berlanjut dan setahun kemudian orang tuanya mampu membeli kios di Pasar Kliwon Kudus. Sejak punya kios, penjualan pakaian meningkat tajam. Bahkan saat itu orang tuanya punya 10 sales yang mampu menjual ribuan pakaian sepekan.

Dari hasil penjualan yang meningkat tersebut, kata Ning, pada tahun 2005 kedua orang tuanya dan eyangnya mampu naik haji. Namun sepulang dari haji, tepatnya pada tahun 2006, beberapa salesnya berhenti memasarkan produk pakaian orang tuanya. Mereka juga meninggalkan utang antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per orang. “Saat itulah kedua orang tuaku merasa berada dititik terendah dalam menjalankan usaha,” ujarnya.

Namun, kata dia, orang tuanya tetap memproduksi pakaian perempuan dan dipasarkannya sendiri ke beberapa daerah tetangga dan toko di Pasar Kliwon. Bahkan dia mengaku sudah dewasa dan ikut memasarkan pakaian itu secara keliling menemani ibunya.

“Dengan perjuangan tanpa menyerah itu, pada tahun 2016 Pemerintah Kudus mengajak orang tuaku untuk ikut beberapa pameran di Kudus dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Sehingga produk pakaian orang tuaku dikenal di banyak daerah. Sejak itu produksi dan penjualan pakaian milik orang tuaku mulai stabil. Dan mampu membiayai beberapa anaknya termasuk diriku untuk kuliah,” ujarnya.