Di Batialit Tak Ada Menara Pandang, Fitriyani Ajak Temannya Ke Bukit Nggeneng Rahtawu

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Bangunan tujuh meter berbahan bambu tampak berdiri kokoh di Bukit Nggeneng  Dukuh Jambu Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Bangunan yang terdiri dari tiga lantai terlihat ramai digunakan sejumlah orang untuk berswafoto. Para pengagum panorama alam tersebut juga tak melewatkan rumah pohon tak jauh darigardu pandang tersebut, untuk mendapatkan foto terbaik dari ketinggian sembilan meter.

Menara pandang di Bukit Nggeneng, Desa Rahtawu, Kudus 2017_6_3
Menara pandang di Bukit Nggeneng, Desa Rahtawu, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, pengunjung Bukit Nggeneng, Fitriyani (19) sudi berbagi penjelasan dan kesan tentang lokasi wisata di ujung utara Kudus tersebut. Dia mengatakan, lokasi bukit berada sekitar 800 meter dari Kantor Kepala Desa Rahtawu. Dengan menaiki motor, dirinya harus melewati jalur aspal menanjak menuju bukit. Ketika sampai di lokasi, dia mengaku kagum dengan suasana alam Desa Rahtawu yang indah. Dia bisa melihat rimbunan pepohonan dan keindahan bukit-bukit Pegunungan Muria.

“Tempatnya bagus unik, menarik dan alamnya indah. Di Batealit (Jepara) tidak ada,” ungkapnya saat ditemui di lokasi beberapa waktu lalu.

Fitriyani bersama lima temannya datang dari dari Batealit, Jepara. Dia mengungkapkan, di daerahnya belum tersedia wisata menara pandang. Menurutnya, yang sudah ada yakni di antaranya wisata hutan pinus dan air terjun. Karena sedang ramai dibincangkan di sosial media, dirinya ingin mencoba sensasi berwisata menara pandang di Bukit Nggeneng Rahtawu. “Ya biasa anak muda. Kami mencari yang sedang ngehits,” tuturnya sambil tertawa.

Menurutnya, selama berada di atas gardu pandang, dia ingin berlama-lama menikmati indahnya alam Rahtawu. Selain udaranya yang sejuk, lokasinya pun jauh dari bisingnya lalu lalang kehidupan perkotaan. Fitriyani mengaku baru pertama kali datang ke Rahtawu. Jika ada kesempatan dirinya akan datang kembali untuk menikmati indahnya alam Rahtawu.

“Memang niatnya ke sini (Bukit Nggeneng Rahtawu). Tadi  ceritanya  kita sempat kesasar ke arah Puncak Songolikur,” tambahnya.

Sementara itu, pengelola wisata Bukit Nggeneng Rahtawu Agus Siswanto mengungkapkan, wisata Bukit Nggeneng Rahtawu mulai rancangnya satu bulan yang lalu. Sebenarnya hingga sekarang fasilitas wisata yang disediakan belum lengkap sesuai perencanaan. Namun karena ada beberapa yang sudah jadi, para wisatawan sudah berbondong-bondong untuk berkunjung. “Ini sebenarnya belum selesai semua. Pas pembangunan menara pandang saja sudah ada yang ingin naik untuk berselfie (swafoto),” ungkapnya.

Diakuinya hal tersebut setelah foto pembangunan menara pandang diunggahnya di akun sosial media. Setelah itu, banyak pengunjung yang datang untuk berfoto. Agus menjelaskan, saat ini di Bukit Nggeneng Rahtawu terdapat menara pandang setinggi tujuh meter, rumah pohon setinggi enam meter dan rumah Masha yang berada di atas pohon berukuran 2,25 meter x 2,5 meter.

“Sebenarnya nama Rumah Masha itu yang memberi nama pengunjung sendiri. Kalau kami dulu beri nama Rumah Pohon Beratap. Namun ya sudahlah ikut keinginan pengunjung saja. Alasannya sih rumahnya sama milik Masha dalam serial kartun Masha and The Bear,” jelasnya.

Selain itu, juga sudah ada flying fox dan camping ground. Menurutnya, untuk flying fox sejauh 35 meter bersifat sementara saja. Nantinya flying fox akan dirubah sejauh 60 meter dengan perekat antarpohon besar. Dan tempat yang semula flying fox akan menjadi fly hammock. “Untuk toilet sudah ada. Ini kami baru mengecor pembangunan kafe,” tambahnya.

Agus melanjutkan, tema wisata yang diberinya nama The View of Bukit Nggeneng menurutnya tidak hanya memberikan konsep wisata swafoto saja, melainkan wisata aktivitas. Dia melanjutkan, wisata yang dikelola secara swadaya menurutnya akan dibuatkan lokasi outbond. Selain itu, juga ada homestay yang lokasinya masih satu komplek di Bukit Nggeneng.

“Untuk biaya masuknya Rp 5 ribu. Pengunjung bisa swafoto sepuasnya di lokasi wisata. Namun untuk flying fox kita kenakan biaya sendiri Rp 10 ribu,” jelasnya.