Dodol Muria Jaya, Saudara Tua Jenang Kenia yang Diklaim Dodol Pertama di Kudus

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Beberapa orang tampak sibuk di dalam satu ruangan rumah yang berada di Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Mereka memasukan kemasan jenang maupun dodol ke dalam kardus dan kemudian menyusun rapi di ruangan tersebut. Rumah tersebut yakni tempat pengemasan Jenang Kenia dan Dodol Muria Jaya, dodol yang diklaim pertama diproduksi di Kudus.

Produk jenang Kenia dan dodol Muria Jaya, Kudus 2017_6
Produk jenang Kenia dan dodol Muria Jaya, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sri Umiyati (45) pemilik usaha tersebut, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha dodol miliknya. Dia mengungkapkan, usaha pembuatan Dodol Muria Jaya dirintis oleh suaminya yang bernama Muhammad Ma’ruf pada tahun 1997. Suaminya memilih usaha produksi dodol karena pada tahun tersebut di Kota Kretek belum ada orang yang memproduksi dodol.

Baca juga: Jenang Kenia, Jenang Asli Kudus yang Pernah Dipamerkan di Manca Negara

“Kalau jenang kan sudah banyak. Bahkan suamiku itu memang terlahir dari kelaurga pengusaha jenang. Pemilik usaha jenang terkenal di Kudus kan masih kerabat suamiku. Karena kerabatnya sudah punya usaha produksi jenang, suamiku kemudian memilih produksi dodol. Ya agar beda dan tidak ada pesaing dan menyaingi,” ujar perempuan yang akrap disapa Umi tersebut.

Perempuan yang rumahnya masih satu atap dengan tempat pengemasan dodol tersebut mengatakan, berbeda dengan jenang yang terbuat dari beras ketan, Dodol Muria Jaya terbuat dari tape singkong. Menurutnya, karena keterbatasan modal suaminya pertama kali hanya mampu memproduksi dodol dari 20 kilogram tape. Kemudian dodol tersebut dititipkannya di beberapa toko di Yogyakarta dan Semarang dengan sistem dodol laku terjual baru bayar.

“Aku bersyukur Dodol Muria Jaya saat itu langsung laris dan cocok di lidah masyarakat luas. Bahkan berangsur-angsur permintaan meningkat dan dalam kurun waktu setahun produksi Dodol Muria Jaya yang awalnya hanya menghabiskan 20 kilogram tape, meningkat signifikan dengan menghabiskna 300 kilogram tape singkong sehari,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak tersebut mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan tape singkong, suaminya bekerja sama dengan 80 pedagang tape dari Pati. Dituturkannya Dodol Muria Jaya dijual dengan harga Rp 16 ribu per pak dengan isi 24 biji dengan berat setengah kilogram. Dodol Muria Jaya kata dia, tersedia enam varian rasa, yakni durian, capucino, sirsat, nanas, cokelat, dan kombinasi rasa.

Dia mengaku, selama Ramadan penjualan Dodol Muria Jaya meningkat, yang tadinya hanya menghabiskan 300 kilgram tape sehari. Selama puasa produksi dodol menghabiskan sekitar 800 kilgram per dua hari. Kini Dodol Muria Jaya juga tidak hanya dipasarkan di Semarang dan Yogayakarta, maupun Kudus. Melainkan seluruh daerah di Jawa dan Bali.

“Kini Dodol Muria produksi kami sudah tersebar seantero Pulau Jawa dan Bali. Dan sejak usaha dodol kami mulai berkembang, pada tahun 1997 kami juga mulai memproduksi jenang yang kami beri merk Jenang Kenia,” ujarnya.