Eli Bisa Jual Ratusan Bungkus Sajian Takjil Sehari, Pantang Pulang Sebelum Habis

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Seorang perempuan berbaju batik tampak sibuk melayani pembeli di warung tepi Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus. Dia tampak memasukan beberapa sajian takjil ditunjuk pembelinya ke dalam kantong plastik. Perempuan tersebut bernama Elinawati (58), penjual berbagai macam sajian takjil yang memiliki prinsip pantang pulang sebelum dagangan habis.

Eli berjualan sup buah di Jalan Sunan Muria, Kudus, untuk sajian takjil 2017_6
Eli berjualan sup buah di Jalan Sunan Muria, Kudus, untuk sajian takjil. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Eli, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengungkapkan, selama berjualan dirinya bersama suaminya menanamkan prinsip pantang pulang sebelum dagangannya habis. Karena menurutnya, dagangannya tersebut tanpa bahan pengawet, jadi sehari harus habis. Jika tidak habis, dagangan tersebut bisa basi. Kalaupun tak basi, rasanya akan berubah.

“Aku berjualan makanan khususnya bubur saat Ramadan ini. Aku juga menjual aneka sajian takjil, jadi harus habis dalam sehari. Soalnya jika tidak bisa habis terjual, keesokan harinya sudah tidak bisa dijual karena basi. Oleh sebab itu prinsip tersebut harus kami terapkan, bagaimanapun caranya, daganganku harus habis terjual dalam sehari,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus itu mengungkapkan, mulai berjualan bukur sejak 1993. Namun dia pernah berhenti karena suaminya kecelakaan dan dia harus merawatnya. Dia mengatakan, setiap hari berjualan bubur dan laukpauk. Namun karena saat ini Ramadan, dia menambah sajian takjil untuk dijual.

Di mengatakan, bubur dan takjil yang dibuat dan dijualnya tersebut tidak menggunakan bahan kimia, khususnya pengawet. Jadi dagangannya tersebut tidak bisa bertahan lebih dari sehari semalam. Dia mengatakan, menjual sekitar 11 jenis bubur, di antaranya, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur cenil dan lain sebagainya.

“Setiap hari aku menyediakan sekitar 200 bungkus yang terdiri dari aneka macam bubur yang aku jual Rp 3 ribu per bungkus. Selain itu aku juga menjual aneka makanan takjil, anatara lain, kolak sebanyak 50 gelas plastik, koktail juga 50 gelas plastik, susu kedelai dan lainnya. Ada juga laukpauk, di antaranya, botok dan sayur,” ujarnya.

Selama Ramadan ini, dia mengaku berjualan mulai pukul 12.00 WIB, dan biasanya pada pukul 16.00 WIB  ratusan bungkus dagangannya tersebut sudah habis terjual. Andai belum habis, dia akan menjual dagangannya tersebut keliling ke beberapa orang yang punya usaha.

“Ini juga sebagai tindakan usaha, ya bisa dikatakan menjemput rezeki. Alhamdulillah selama ini responnya bagus kadang pemilik usaha itu belinya langsung puluhan bungkus untuk para pekerjanya,” katanya.

Dia mengatakan, selama Ramadan penjualan aneka dagangannya tersebut meningkat. Menurutnya, peningkatannya sangat signifikan, hingga 40 persen dibanding hari-hari biasa. “Aku juga menerima pesanan. Minimal pesanannya harus 50 bungkus,” ujarnya.