Eli Jual Aneka Macam Sajian Takjil Tanpa Bahan Pemanis Buatan dan Pengawet

Posted on

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Di Jalan Sunan Muria Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah warung beratap terpal dan tanpa dinding. Di warung tersebut tampak berbagai macam dagangan dijajakan di atas meja kayu. Di samping meja tampak seorang perempuan setengah baya sedang melayani pembeli. Perempuan tersebut yakni bernama Elinawati (58), penjual aneka makanan takjil yang dibuat tanpa bahan kimia.

Jual sajian takjil untuk berbuka di Glantengan, Kudus 2017_6
Jual sajian takjil untuk berbuka di Glantengan, Kudus. Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Eli itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, selama Ramadan dirinya menjual aneka makanan takjil. Menurutnya, aneka makanan buatannya sangat aman untuk dikonsumsi karena tanpa dicampuri bahan kimia diantaranya pemanis buatan.

“Makanan takjil buatanku pemanisnya menggunakan gula murni. Jadi tanpa pemanis buatan atau sakarin. Dan daganganku itu tanpa bahan pengawet, jadi sangat aman untuk dikonsumsi setiap hari. Jadi cocok sebagai menu tambahan saat berbuka puasa,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan warga Desa Rendeng, Kota, Kudus itu mengatakan, berbeda dengan hari biasa, pada saat Ramadan dia mulai berjualan pukul 12.00 WIB. Sedangkan pada hari biasa dia berjualan mulai pagi. Dia menuturkan, menjual aneka makanan takjil di antaranya, kolak yang dijual Rp 6 ribu per porsi, koktail Rp 4 ribu per gelas plastik, dan agaragar dijual Rp 3500 perkemasan. Selain itu dia juga menjual susu kedelai yang dijual seharga Rp 2 ribu per bungkus.

“Pada saat Ramadan ini aku juga tetap menjual aneka bubur yang biasa aku jual di bulan lain dengan harga sama yakni Rp 3 ribu per bungkus. Bubur yang aku jual ada sekitar 11 macam jenis bubur,” ungkapnya sambil tersenyum.

Perempuan yang berjualannya ditemani oleh suaminya tersebut kemudian merinci aneka bubur yang dijualnya tersebut. Di antaranya bubur kacang kulit, dan bubur kacang hijau kupas, bubur ketan hitam, bubur biji salak, bubur cenil, bubur kacang merah, bubur delima, bubur pisang, bubur ketela, bubur jagung, serta bubur sumsum.

“Saya membuat sendiri bubur dan dagangan lainnya, agar bisa menjaga kualitas rasa serta memastikan tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan. Karena sekarang banyak pedagang yang curang, demi mendapatkan keuntungan lebih mereka menggunakan bahan-bahan berbahaya,” ujarnya.

Dia mengatakan, selain menjual aneka makanan takjil, dirinya juga menjual aneka laukpauk dan sayur mayur. Di ataranya, sop tahu isi ayam yang dijual Rp 11 ribu per bungkus. Selain itu dia juga menjual aneka botok, antara lain, botok petet, botok teri cabai hijau, botok pepes ikan dan lain sebagainya.

“Sama dengan aneka makanan takjil, aneka masakan laukpauk dan sayur juga tanpa bahan kimia, tanpa bahan pengawet serta micin. Untuk penyedap rasa kami ganti dengan gula dan garam. Pokoknya masakan kami tanpa bahan kimia, karena kami selalu menjaga kepercayaan para pelanggan” ujarnya.