Isna Tak Kesulitan Hafalkan Al-Quran, Baginya yang Paling Berat Melawan Rasa Malas

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Sejumlah santriwati duduk di bangku ruangan kelas MA Muhammadiyah komplek Pondok Pesantren Muhammadiyah Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. Mereka terlihat sedang menghafal ayat Al-Quran yang akan disetor kepada ustazah yang sudah duduk dibangku depan. Saat nama santriwati dipanggil, yang bersangkutan maju ke depan untuk menyetorkan hafalan kepada ustazah.

Penghafal Al-Quran Ponpes Muhammadiyyah Kudus 2017_6
Penghafal Al-Quran Ponpes Muhammadiyyah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Setelah dipanggil, ustazah kemudian mendengarkan detail setiap lafal ayat Al-Quran yang dilfalkan. Selain menyimak, dia juga mencatat hasil hafalan santriwati ke dalam buku catatan. Kegiatan serupa tak hanya dilakukan di ruangan kelas MA Muhammadiyah saja, melainkan juga di dalam masjid Al-Falah dan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Putra di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus.

Baca juga: Inilah Pondok Pesantren Muhammadiyah Satu-Satunya di Kudus

Isna Agustin Sholihah (18), adalah satu di antara santriwati yang menghafal A-Quran tersebut. Dia yang masih kelas delapan MTs Muhammadiyah, saat ini sudah hafal Juz 30 dan Juz 1. Dia sudah satu tahun menghafal, sejak kelas tujuh MTs. “Untuk yang juz 1 masih diulang-ulang,” ungkapnya saat ditemui di Pondok Pesantren Muhammadiyah, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, saat menghafalkan Al-Quran yang susah yakni melawan rasa malas. Selain itu, dirinya juga kerap tergoda dengan temannya yang asyik bermain. Namun saat fokus, dirinya dalam sehari bisa melahap hafalan sejumlah satu halaman. Hafalan tersebut dilakukannya rutin selama tiga kali saat sehabis Salat Ashar, Salat Maghrib dan Salat Subuh. “Kalau ada kesempatan saya ingin hafal 30 juz,” tuturnya yang berasal dari Kecamatan Gajah, Demak.

Kendala yang dihadapi Isna juga berlaku juga untuk Muhammad Hilmi Arif Syauqi (13). Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah yang tinggal di Desa Singocandi, Kecamatan Kota mengaku juga merasa kesulitan saat dirinya merasa malas. Terlebih saat diajak main keluar oleh teman-temannya. “Terkadang saya juga merasa tidak mut menghafal,” tuturnya.

Sebenarnya, tutur Hilmi adanya kesulitas saat menghafal berasal dari santri sendiri. Menurutnya, para ustaz selalu memberikan motivasi dan arahan supaya santri bisa menghafal dengan baik. Selain itu, fasilitas yang diberikan pondok juga sangat baik. Hilmi yang masih kelas satu MTs Muhammadiyah mengaku sudah hafal Juz 30. Namun dirinya merasa masih perlu mengulang-ulang surat Al-Qur’an yang sudah dihafalnya.

“Di sini enak. Kamar bagus tempatnya nyaman. Intinya saya betah,” terangnya yang berasal dari Mijen, Demak.

Berbeda dengan Rauf Amru Amarullah (16). Amru yang sudah duduk di kelas 10 MA Muhammadiyah mengaku pada awal menghafal Al-Quran dirinya kesulitan karena terlalu banyaknya beban pelajaran yang harus diterima. Menurutnya, selain harus menghafal Al-Quran, dirinya juga harus belajar materi pelajaran dari sekolah formal.

Namun lambat tahun karena sudah terbiasa, akhirnya Amru bisa menyesuaikan dengan target hafalan yang diberikan oleh sekolah. “Memang ada targetnya. Setahu saya lulus MTs haru hafal jus 30, lulus MA hafal juz 1 dan 2,” terangnya.

Dalam proses menghafal, Amru mengaku selalu memanfaatkan waktu selepas salat wajib untuk menghafal. Waktu tersebut juga gunakannya untuk mengulang-ulang dan menambah hafalan. Menurutnya, hingga saat ini dirinya sudah hafal juz 30, juz 1 dan 2. “Untuk juz dua masih diulang-ulang,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus Nadhif (33) mengungkapkan, Pondok Pesantren Muhammadiyah yang dikelolanya langsung dibawah manajemen kepengurusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus. Selain terdapat pondok untuk tinggal dan mengembangkan keilmuan agama, juga ada MTs dan MA untuk sekolah formal.

“Latar belakang adanya lembaga tersebut karena Muhammadiyah kekurangan akan kader. Kader yang secara penuh tidak hanya pintar organisasi melankan juga ilmu keagamaan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pihaknya mewajibkan para siswa yang sekolah di MTs dan MA untuk tingga di pondok. Menurutnya, selain untuk memperdalam ilmu agama, para siswa juga dituntut untuk menghafal Al-Quran. Namun yang dihafalkan bukan keseluruhan 30 juz. Melainkan hanya juz 30, juz 1 dan juz 2. Diberitahukan, jumlah santri perempuan maupun laki-laki yang tinggal di pondok yakni sejumlah 383 anak. “Untuk hafalannya ada targetnya. Saat lulus MA mereka harus hafal Juz 30, 1 dan 2,” jelasnya.