Jauh dari Masjid dan Musala, Penjual Lampion di Rendeng Ini Salat di Tepi Jalan

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Siang itu suara azan dan iqomah terdengar usai dikumandangkan, tanda waktu salat dzuhur telah tiba. Di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus tampak belasan lampion dengan berbagai bentuk tergantung pada seutas tali rafia. Tak jauh dari lampion-lampion tersebut, terlihat seorang pria sedang salat di atas got yang tertutup. Pria tersebut yakni Kurniawan (45), penjual lampion yang selalu berusaha salat tepat waktu meski berada di tepi jalan.

Penjual lampion salat di tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus 2017_6
Penjual lampion salat di tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai salat, pria yang akrab disapa Kus itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang aktivitasnya tersebut. Dia mengungkapkan, selama berjualan lampion dirinya memang menjalankan kewajiban salatnya di tepi jalan. Itu dikarenakan musala dan masjid jaraknya cukup jauh.

“Kalau aku menjalankan salat di pinggir barang daganganku, pembeli pasti menungguku hingga selesai salat. Aku juga selalu berusaha salat tepat waktu karena ingin pahala kok ditunda-tunda. Sedangkan kita itu berharap mendapatkan rejekinya selalu cepat,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Rendang, Kota, Kudus itu mengungkapkan, agama Islam juga memperbolehkan umatnya untuk menjalankan ibadah salat di mana saja tempatnya yang penting dalam keadaan suci. Suci tempat serta pelaku salat juga suci dari khadas besar dan kecil.  Sedangkan untuk wudlu, Dia mengaku menggunakan air yang ditampungnya di botol aqua besar.

“Setiap berjualan lampion di tepi jalan, aku salat Dzuhur dan Ashar juga di tepi jalan. Menurtku salat itu kan di mana saja boleh yang penting suci dan berusaha khusuk. Seusai salat wiridan sebentar dan berdoa agar dagangan laris, sehat dan keluarga bahagia,” ungkap Kus yang mengaku tidak pernah meniggalkan salat lima waktu dan puasa Ramadan tersebut.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, setiap menjelang Lebaran dirinya menjual aneka berbagai bentuk lampion untuk malam Takbiran. Di antaranya, berbentuk masjid, menara, kapal, Hello Kitty, musala, dan rumah susun. Untuk harga, tutur dia, lampion mushala da rumah susun dijual dengan harga Rp 20 ribu lengkap dengan lampu LED.

Sedangkan lampion bentuk lainnya kata dia dijual Rp 25 ribu per satu lampion beserta dengan lampu LED. Menurutnya, dari aneka bentuk tersebut, lampion bentuk masjid dan menara paling laris dan habis duluan. Sekarang ini lampion yang dijualnya hanya tersisa bentuk kapal dan Hello kitty.

“Bulan Ramadan ini penjualan lampion terbilang laris. Bahkan sepekan berjualan 125 lampion, sekarang hanya tinggal 18 lampion saja. Dan semoga saja dalam dua hari ke depan semua lampionku sudah ludes terjual,” ujarnya yang mengaku mendapatkan aneka lampion dari pengrajin Jepara.

Dia menuturkan, Menyesal karena tidak memesan ke pengrajin lampion dalam jumlah banyak minimal 200pcs atau berapa gitu. Jadi saat mendekati lebaran dia bisa masih punya barang untuk dijualnya. “Aku akui salah prediksi, aku kira tidak begitu laris karena sebelumnya terkadang masih hujan. Kalau tahu lariskan aku bisa memesan lebih banyak. Yah, Mungkin belum rejeki dan rejekiku memang sudah segitu,” kata Kus pasrah.