Jelang Lebaran, Masan Bisa Jual Enam Ton Semangka Dalam Sehari

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, MEDINI – Di tepi timur Jalan Kudus-Purwodadi tepatnya di Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus tampak sebuah lapak beratap terpal. Di dalam lapak terlihat seorang pria mengenakan kaus warna putih sedang melayani dua orang calon pembeli yang sedang memilih buah berbentuk bulat tersebut. Pria tersebut bernama Masan (42) penjual semangka yang mampu menjual enam ton semangka dalam sehari.

Jual semangka sebelum Lebaran 2017_6
Jual semangka sebelum Lebaran. Foto: Rabu Sipan

Pria yang akrab disapa Aan itu sudi berbagi penjelasan kepada seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, sudah 16 tahun berjualan semangka. Menurutnya, buah semangka sangat diminati saat hari sedang terik. Bahkan dia mengaku, bisa menjual sekitar enam ton semangka dalam sehari.

“Setiap kemarau, berjualan semangka memang lumayan laris. Karena setiap aku mendatangkan satu truk semangka dengan berat keseluruhan sekitar enam ton itu bisa langsung terjual habis dalam sehari. Padahal saat ini harga semangka lumayan mahal,” ujar A’ an.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, menjual aneka jenis semangka. Ada jenis Semangka Tanpa Biji (TB), ada juga Semangka Black Orange, semangka merah biasa serta Semagka Inul. Menurutnya, untuk harganya dijualnya berbeda, Seamngka Black Orange dan Semangka Tanpa Biji serta Inul dijual dengan harga Rp 7 ribu per kilogram.

“Sedangkan semangka merah biasa aku jual dengan harga Rp 6 ribu perkilogram. Itu untuk pembelian ecer. Untuk para bakul, harga yang aku sebutkan tadi dikurangi masing-masing Rp 1 ribu perkilogram,” jelasnya.

Warga Medini, Undaan, Kudus itu mengatakan, harga semangka yang relatif mahal itu dikarenakan saat ini petani lokal Kudus jarang ada yang menanam semangka. Jadi harga harus dikakulasi dengan ongkos akomodasi. Untuk mendapatkan buah yang memiliki biji bernama kuaci tersebut dia mengaku membeli hingga Lampung, Bali dan seluruh Pulau Jawa.

Selain keberadaannya yang  jauh, buah semangka di musim ini relatif agak langka bahkan setok semangka dari para petani relatif sedikit. Tak jarang dia sering kehabisan. Menurutnya, selain kemarau permintaan meningkat itu menjelang lebaran seperti saat ini. Bahkan sebenarnya, dia bisa menjual lebih banyak lagi semangka seandainya ada setoknya.

Dia mengatakan, sudah memiliki banyak pelanggan (bakul) yang membeli semangkanya tersebut. Puluhan bakul tersebut selalu membeli semangkanya dalam jumlah banyak. Karena memang diakuinya selain menjual secara ecer, A’ an juga melayani pembelian secara grosir.

“Dan setiap aku mendatangkan semangka, mereka para bakul itu aku kabari, dan mereka akan serta merta datang untuk membelinya. Dalam tempo beberapa jam setok semangka di lapaku pasti tinggal sedikit malah terkadang langsung habis.” ujarnya.

Dia mengaku berjualan semangka sepanjang tahun, dan berhenti saat musim hujan. Menurutnya, pada musim hujan sebenarnya ada permintaan dari para pelanggannya namun dia tidak berani berspekulasi lebih jauh. Karena berjualan semangka di musim penghujan rentan dengan kerugian. “Setiap musim hujan datang aku pasti berhenti berjualan semangka. Karena aku itu cari untung bukan cari buntung,” ujarnya.