Jelang Lebaran, Permintaan Sepatu dan Sandal Hand Made Karya Supa’at Terus Meningkat

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Seorang pria terlihat sibuk membuat sandal di teras rumah di Keluarahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus. Di teras itu juga tampak puluhan alas sandal yang terbuat dari karet dan puluhan kulit imitasi bahan baku untuk pembuatan sandal. Rumah tersebut yakni tempat pembuatan sandal dan sepatu wanita bermerek Aqilla, milik Supa’at.

Supa’at membuat sepatu di rumahnya, Kelurahan Kajeksan, Kota, Kudus 2017_6
Supa’at membuat sepatu di rumahnya, Kelurahan Kajeksan, Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Supa’at mengungkapkan, selama Ramadan ini penjualan aneka sandal dan sepatu produksinya mengalami peningkatan. Namun peningkatannya tidaklah besar, hanya 20 persen per pekan.

“Meski peningkatannya tidak begitu besar aku tetap bersyukur setidaknya ada peningkatan penjualan, daripada tidak ada. Bulan Ramadan, biasanya aku hanya mampu menjual sekitar 100 pasang sepekan. Sedangkan sebulan menjelang Lebaran ini penjualannya bisa mencapai 120 pasang dalam waktu yang sama,” ujar Supa’at saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Kajeksan, Kota, Kudus tersebut mengungkapkan, dirinya memproduksi sandal dan sepatu khusus perempuan dengan bahan kulit imitasi. Menurutnya, sepatu dan sandal hasil produksinya tersebut sepekan sekali disetorkan kepada para pedagang yang sudah jadi pelanggannya di beberapa pasar di Semarang maupun di Kendal. Pasar-pasar tersebut di antaranya, Pasar Karang Ayu, Pasar Ngalian, Pasar Bojo, Pasar Pagi, Cepiring dan lainnya.

“Aku mengirim sepatu dan sanda hasil produksiku secara gantian dari pasar satu ke pasar lainnya, jadi sekitar sebulan sekali aku mengirim sandal dan sepatu ke pasar yang sama. Aku menjual sandal hasil produksiku dengan harga Rp 25 ribu sepasang, dan Rp 35 ribu untuk sepasang sepatu,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai dua anak dan satu cucu itu menuturkan, terkadang juga sandal dan sepatu yang dibuat, dibeli pedagang grosir Kudus. Biasanya pedagang tersebut menjual sandal dan sepatu hasil produksinya ke seluruh daerah di Karesidenan Pati. Tapi jika tidak dibeli pedagang grosir itu, dia akan membawa produk sandal dan sepatunya ke Semarang dan Kendal.

Supa’at menuturkan, sebelum melabeli produknya dengan nama Aqilla, Supaat melabeli produknya dengan merk Lion Star. Menurutnya, pemberian merek tersebut diambil dari nama cucu pertamanya.

“Semoga dengan merek baru sesuai nama cucuku ada harapan baru dengan usahaku. Semoga usahaku bisa makin berkembang dan sandal serta sepatu hasil produksiku makin banyak lagi digemari oleh para kaum hawa,” harap Supa’at.

Dia menuturkan, saat ini hanya seorang diri memproduksi sandal dan sepatu. Dalam sehari dia mengaku mampu produksi sekitar 20 pasang sepatu maupun sandal dengan berbagai ukuran. Sedangkan untuk bahan dasar pembuatan sepatu maupun sandal tersebut dibelinya dari satu toko yang ada di Kudus.

Untuk bentuk sandal dan sepatu, dirinya mengaku mengikuti bentuk dari kulit imitasi yang tersedia di toko tempatnya berbelanja. Dengan keterbatasan bentuk yang disediakan, dia mengaku hanya pasrah dan memproduksi sandal dan sepatu dengan model seadanya. Karena pemilik toko tersebut juga khawatir, jika menyediakan aneka bentuk dan corak, tapi tidak ada yang membeli.