Masjid di Pasuruan Lor Ini Sengaja Dicat Warna Hijau Agar Terasa Adem dan Sejuk

Posted on

SEPUTARKUDUS.COM, PASURUAN LOR – Masjid di Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus ini sebagian atapnya masih berbentuk limas bersusun tiga. Di puncak atapnya berhiaskan mustaka dari monel. Sedangkan sebagian atapnya lagi berbentuk kubah besar dengan warna hijau. Masjid tersebut bernama Masjid Baitul Makmur, yang didominasi warna hijau agar terasa adem dan sejuk.

Masjid Baitul Makmur Pasuruan Lor, Kaliwungu, Kudus 2017_6
Masjid Baitul Makmur Pasuruan Lor, Kaliwungu, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Dwi Nuryanto (59), takmir masjid tersebut mengungkapkan, Masjid Baitul Makmur dibangun pada tahun sekitar 1950. Masjid sudah dipugar sebanyak dua kali dan pemugaran terakhir masjid dicat dengan warna hijau agar terlihat adem dan terasa sejuk saat berada di dalam masjid.

“Itu harapan para masyarakat di sini. Dengan merasa sejuk dan adem saat ada di masjid, para jamaah bisa merasakan ketenangan saat beribadah. Selain itu kami juga berharap agar masyarakat selalu datang untuk salat berjamaah di Masjid Baitul Makmur,” ujar pria yang akrab disapa Dwi kepada Seputarkudus.com bebebapa waktu lalu.

Warga Desa Pasuruan Lor, Jati, Kudus itu mengungkapkan, selain itu masjid yang berlantai dua itu dinamakan Baitul Makmur agar jamaah di Masjid Baitul Makmur bisa makmur dikehidupan dunia maupun akhirat. Makmur di dunia memiliki maksud, agar jemaah diberi kesehatan dan rezeki berlimpah dan makmur, serta di akhirat bisa masuk surga.

Dia mengatakan, masjid dipugar terakhir pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 2005. Masjid diresmikan KH Sya’roni Ahmadi. Menurutnya, pembangunan yang berlangsung hingga delapan tahun itu menelan biaya sekitar Rp 1,4 miliar. Dana berasal dari swadaya masyarakat, seikhlasnya.

“Sistem penarikan dana pembagunan masjid dengan memberikan kaleng ke seluruh warga Desa Pasuruan Lor yang beragama Islam. Dan kaleng tersebut akan diambil oleh pihak panitia pembangunan masjid sebulan sekali. Jadi memang betul-betul seiklasnya,” ujarnya.

Dia menuturkan, Masjid Baitul Makmur berdiri diatas tanah wakaf seluas 1500 meter persegi. Dengan bentuk masjid masih mempertahankan desain masjid-masjid kuno di Jawa dengan atap susun dan satu kubah. Atap masjid berbentuk limas dan bersusun tiga itu ditopang dengan empat tiang atau biasa disebut saka papat.

“Setelah dipugar Masjid Baitul Makmur sekarang jadi tambah luas dan mampu menampung sekitar 1000 jamaah. Sekeliling masjid juga dibangun pagar yang dicat senada dengan warna tembok masjid yakni hijau. Pokoknya warna hijau melambangkan kesejukan dan senada dengan warna lambang NU,” ungkapnya.