Menara Masjid di Getas Pejaten Ini Tingginya 27 Meter dan Belum Ada yang Menyamai Bentuknya

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Masjid yang berada di tepi barat Jalan Sentot Prawirodirjo, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, memiliki kubah berwarna hijau. Di bagian depan terlihat dua menara tinggi menjulang dengan kombinasi warna hijau, putih dan kuning. Masjid tersebut yakni Masjid Baitul Mukminin, yang diklaim memiliki desain menara yang tak satupun masjid di Kudus menyamainya.

Masjid Baitul Mukminin Desa Getas Pejaten, Kudus, dengan dua menara di bagian depan 2017_6_9
Masjid Baitul Mukminin Desa Getas Pejaten, Kudus, dengan dua menara di bagian depan. Foto: Rabu Sipan

Menurut, Sutikno selaku pelaksana proyek pembangunan Masjid Baitul Mukminin, dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri  masjid didesain seperti masjid yang berada di Arab Saudi. Dia mengklaim, desain menara tersebut di Kudus belum ada yang menyamai.

“Dua menara di Masjid Baitul Mukminin di Kudus itu desain dan bentuknya itu aku samakan persis dengan satu menara masjid yang ada di Arab Saudi. Kami melihat gambar di majalah. Ciri khas menaranya yakni paling atas dibuat bulat elips dan bawahnya ada semacam sirip berwarna emas. Itu saat dilihat dari bawah mirip mahkota,”  kata Sutikno kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, menara Masjid Baitul Mutaqin tingginya sekitar 27 meter. Selain bentuk dan desain pemilhan warna untuk dua menara tersebut terbilang sangat indah. Menara di masjid lain, biasanya itu dicat dengan satu warna atau dua warna saja. Tapi menara masjid Baitu Mukminin tersebut dicat dengan berbagai warna.

“Meski dicat dengan perpaduan banyak warna, namun menara Masjid Baitul Mukminin tetap terlihat mewah dan megah. Perpaduan warna antara putih, merah jambu, hitam, coklat tua makin membuat kesan indah pada dua menara tersebut. Intinya menara di Masjdi Baitul Mukminin lain daripada yang lain,” ujarnya.

Sutikno mengatakan, Masjid Baitul Mukminin didirikan pada tahun 1913. Menurutnya, pemugaran terakhir pada tahun 2014 hingga sekarang. Pembangunan masih berjalan karena pengerjaan baru mencapai 95 persen. Dari pengerjaan tersebut, kata dia, sudah menelan biaya lebih dari Rp 3 miliar.

“Dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat setempat. Untuk yang Rp 3 miliar itu hasil dari swadaya masyarakat. Belum lagi dari para dermawan yang menyumbang berbagai macam matrial untuk pembangun masjid,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, masjid yang berdiri di atas tanah seluas 625 meter persegi tersebut tampak terlihat elegan. Dengan bentuk bangunan minimalis serta dipadu dengan arsitektur Timur Tengah dengan dua menara yang tinggi menjulang menambah kemegahan Masjid Baitul Mukminin. Selain itu lantai atas dan bawah masjid semuanya dipasang granito. Selain itu Dinding masjid bagian depan serta pengimaman diperindah dengan marmer.

Sekeliling pengimaman, kata dia, juga dihiasi dengan kaligrafi. Tidak ketinggalan lispang dalam juga mendapat sentuhan kaligrafi Ayat Kursi. Semua tiang dicat wash mengkilat senada dengan warna marmer. Semua kusen, pintu dan jendela menggunakan gebyok ukir. “Pokoknya seusai dibangun masjid makin jos dan semoga mampu memantik minat orang untuk salat di masjid,” ujarnya.