Pertama Dibangun Menggunakan Tanah Liat, Kini Masjid Alfalah Berdiri Megah

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Dua menara tinggi menjulang dan sebuah kubah tampak menghiasi masjid yang berada di Dukuh Muneng, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. Masjid yang terlihat minimalis saat dilihat dari depan itu dipenuhi oranamen dan tulisan arab di sekiling pintu masuk masjid. Masjid tersebut yakni Masjid Jami’ Al Falah, masjid yang sebelumnya memiliki bangunan lama hanya menggunakan perekat tanah liat.

Masjid Jami’ Al Falah Desa Gribig, Kaliwungu, Kudus 2017_5
Masjid Jami’ Al Falah Desa Gribig, Kaliwungu, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut KH Basyar, Nadzir Masjid Alfalah, mengungkapkan, Masjid Jami’ Al Falah dibangun sejak 1966. Namun pada tahun 2002 masjid tersebut dipugar karena umur bangunan yang sudah tua dan rapuh. Selain itu pada pertama membangun masjid tersebut tidak menggunakan semen untuk merekatkan batu bata, melainkan hanya menggunakan tanah liat.

“Karena bangunan sudah rapuh tersebut, kami bersama masyarakat lainnya berinisiatif untuk memugar masjid dengan model kekinian agar kokoh dan megah. Sekarang bisa dilihat sendiri hasilnya, meski Masjid Al falah tidak begitu besar namun terlihat megah,” ujarnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, pembiayaan pemugaran masjid yang berukuran sekitar 10 x 15 meter tersebut menghabiskan uang Rp 1,2 miliar. Dana tersebut berasal dari iuran warga Dukuh Muneng setiap bulan serta jimpitan setiap malam yang dikumpulkan ikatan remaja masjid setempat. Sedangkan untuk arsitektur bangunan masjid, menurutnya diadopsi desain beberapa masjid di Indonesia.

“Untuk desain Masjid Jami’ Al Falah memang diambil dari beberapa masjid yang sudah ada di Indonesia. Agar terlihat megah, arsitektur masjid mengadopsi desain Timur Tengah dengan khas menara dan kubah. Sedangkan dalam masjid diberi ciri khas Kudus dengan menggunakan gebyok ukir untuk tiga pintu masuk masjid,” ujarnya.

Selain itu kata dia, pengimaman masjid juga dipercantik dengan menggunakan gebyok besar nan tinggi yang dipenuhi dengan ukiran. Menurutnya, gebyok berukir khas Kudus serta berwarna coklat itu memiliki tinggi sekitar enam meter dan lebar sekitar empat meter. Lantai masjid juga menggunakan granit makin menambah kesan megah Masjid Jami’ Al Falah.

Tidak hanya lantainya saja, tuturnya, dinding dalam masjid bagian depan juga terpasang granit. Sedangkan di pengimaman tampak sisi kanan dan kiri terpajang sebuah mimbar penuh ukir serta tulisan Arab, dan jam bandul berwadahkan kayu jati menambah khas Jawa. “Kami memang meronavsi masjid menjadi megah agar para jama’ah betah dan sudi salat berjama’ah di masjid Al falah,” ungkapnya.