Ponpes Yanbu’ul Quran Anak-Anak Kudus Gunakan Metode Klasik Hafalkan Al-Quran

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Dengan mengenakan seragam warga ungu putih bersarung hijau, sejumlah anak terlihat berbondong-bondong membawa Al-Quran menuju lantai dua Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra, Kudus. Selain itu, mereka ada juga yang berjalan menuju musala pondok untuk setoran hafalan kepada masing-masing ustaz.

Santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus menyetor hafalan 2017_6_6
Santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus menyetor hafalan. Foto: Imam Arwindra

Sementara itu di lantai dua gedung pondok, santri berusia antara 6-7 tahun, terlihat mengulang-ulang bacaan ayat Al-Quran yang akan disetorkan. Satu demi satu mereka melantunkan hasil hafalannya kepada ustaz . Hafalan yang dilakukan menurut pengurus Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra, Moh Asyroful Khotim, setiap pertemuan menyetor hafalan antara dua hingga lima juz. Dalam sehari, dirinya menyebutkan terdapat tiga kali pertemuan kegiatan belajar mengajar Al quran.

Baca juga: Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus Anak-Anak, Datang Dari Sabang Hingga Merauke Menghafal Al-Quran

“Mereka tidak merasa kesulitan. Karena sudah biasa. Kalau di sini metode yang digunakan yakni metode klasik,” ungkapnya saat ditemui di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra, Jalan KH. Muhammad Arwani, Krandon, Kudus, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, metode klasik yang digunakan untuk menghafal Al-Quran yakni dengan cara musyafahah, resitasi, takrir dan mudarasah. Setiap hari para santri diminta untuk mengulang hasil hafalannya kepada ustaz. Metode ini menurut Asyroful Khotim, menginginkan santrinya benar-benar bisa membaca Al-Quran secara bil ghoib (hafal). Selain itu, santri juga diharapkan bisa membaca Al-Quran (khatam binnadhor) sesuai dengan tajwid yang benar.

“Menghafal Al-Quran juga ada yang menggunakan metode modern, enam bulan sudah khatam. Namun ya sudah benar-benar khatam atau khatamnya hanya menghafal bukan membaca,” ungkapnya.

Asyroful Khotim menerangkan, ada beberapa metode modern menghafal Al-Quran hanya dengan mendengar tidak membaca. Menurutnya, hal tersebut sangat berbahaya ketika anak yang menghafalkan Al-Quran sudah dewasa. Kelak ketika diminta mengajar Al-Quran, dia tidak bisa menjelaskan bacaan ayat Al-Quran. “Syarat untuk masuk di sini harus bisa membaca Al-Quran. Itu syarat mutlak,” tambahnya.

Dalam kegiatan belajar menghafal Al-Quran, dia memberitahukan setiap pertemuan maksimal setor lima juz kepada ustaz. Menurutnya, setiap terdapat tiga kali pertemuan. Target lima juz tersebut dianggapnya sudah sesuai dengan kondisi dan tenaga anak usia enam hingga tujuh tahun. “Setiap satu ustaz membimbing 10 anak,” terangnya.

Pemberlakuan target hafalan tersebut diberikan saat anak sudah terbiasa menghafal. Menurutnya, untuk santri baru, pihaknya memberikan target hafalan surat-surat pendek di juz 29 dan 30 saja. Hal tersebut diakuinya sesuai perintah KH Ulin Nuha Arwani dan KH Ulil Albab Arwani yang menyesuaikan dengan nafas anak-anak.

“Untuk yang baru, lima ayat atau empat sampai lima baris. Ini juga berlaku untuk santri yang masih dikarantina. Nanti kalau sudah selesai, akan langsung memulai dari juz satu” ungkapnya.

Menurut Asyroful Khotim, setiap tahun terdapat 50 anak yang menjadi santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra. Sebagian besar mereka khatam 30 juz dengan waktu belajar selama empat hingga lima tahun. Namun diakuinya ada juga anak yang baru dua tahun belajar sudah khatam. Menurutnya, anak-anak tersebut kategori anak yang cerdas, penurut dan taat pada peraturan pondok. “Dan yang tak kalah penting, ada ikhtiyar orang tuanya ikhlas anaknya belajar,” tambahnya.

Selain menghafal Al-Quran, santri yang berjumlah 316 anak juga sekolah formal di MI NU Tahfidhul Qur’an Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) dari pukul 07.30 WIB hingga 12.00 WIB. Mereka belajar 28 mata pelajaran seperti sekolah formal pada umumnya. “Sekolah dan pondok masih satu komplek. Jadi siswa tidak akan keluar dari gerbang,” jelasnya yang sudah menjadi pengurus pondok selama enam tahun.