Ramadan Datang, Penjual Nasi dari Semarang Sedia Jasa Penukaran Uang

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Sepeda motor matik tampak terparkir di sebelah utara Jalan Sunan Kudus Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di depan Toko Tiga Enam. Di atas  sepeda motor tersebut tampak uang kertas berjajar rapi sesuai nominalnya. Di sampingnya terlihat seorang perempuan mengenakan kaus waran kuning sedang duduk. Perempuan tersebut bernama Muktiati Safitri (30), penyedia jasa penukaran uang.

Jasa penukaran uang di Kudus jelang Lebaran 2017_6_5
Jasa penukaran uang di Kudus jelang Lebaran. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu penukar uang, perempuan yang akrab disapa Fitri itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang jasanya tersebut. Dia mengungkapkan, menekuni jasa penukaran uang sejak lima tahun lalu, yang khusus dikerjakannya saat Ramadan. Diakuinya, pada Ramadan tahun ini dirinya baru dua hari mulai membuka jasa penukaran uang di Kudus.

“Ramadan ini, aku baru dua hari ini buka jasa layanan penukaran uang. Modal Rp 50 juta yang aku pinjam dari saudaraku. Karena pinjam modalnya ke saudara sendiri jadi tanpa jaminan dan bunga. Uang tersebut lalu aku tukarkan kepada seseorang yang sudah menukarkan uang di Bank Indonesia (BI)” ujarnya beberapa waktu lalu.

Perempuan yang berasal dari Pedurungan, Semarang itu mengungkapkan, uang modal tersebut harus dikembalikannya pada Hari Raya Idul Fitri. Dia mengatakan, menyediakan aneka pecahan uang berbagai macam nominal di antaranya, Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu. Menurutnya, dia mengambil untung 10 persen dari nominal uang yang ditukarkan.

“Minimal penukaran harus Rp 100 ribu. Jadi saat ada yang menukarkan uang Rp 100 ribu mereka harus memberi uang Rp 110 ribu. Itu juga berlaku untuk penukaran dengan nominal lebih besar. Dan 10 persen tersebut tidak akan aku naikan saat mendekati Hari Raya Idul Fitri,” jelasnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, dua hari membuka jasa penukaran uang dirinya mengaku peminat penukar masih sepi. Meski begitu ada saja orang menukarkan uang kepada dirinya. Untuk saat ini sehari dia mampu menukarkan uang sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

“Di Pekan pertama Ramadan peminat penukar uang masih sepi. Biasanya ramainya nanti saat sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Pada waktu itu aku biasanya mampu menukar uang sampai Rp 10 juta sehari. dan puncaknya nanti saat dua hari menjelang Lebaran, aku mampu menukarkan uang hingga Rp 20 juta sehari,” ungkapnya.

Dia menuturkan, pekerjaan menjadi jasa penukaran uang dilakukannya saat Ramadan saja. Seusai Lebaran dia mengaku akan beraktivitas sepertia biasa, yakni berjualan nasi di pasar. Dia mengaku, setiap Ramadan memang libur berjualan nasi. Itu dilakukannya karena tidak ingin mengganggu orang menjalankan ibadah puasa.

“Karena saat Ramadan tidak ada kegiatan, lima tahun yang lalu aku ikut tetanggaku yang sudah terlebih dulu menekuni pekerjaan jasa penukaran uang. Karena hasilnya lumayan aku pun bertahan hingga sekarang,” ujarnya.