Sabilul Muttaqin, Masjid di Jepang Pakis nan Indah yang Bentuknya Memanjang ke Utara

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Masjid lantai dua tampak berdiri tepat di pertigaan Jalan Kyai Mojo di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus. Masjid yang didominasi warna hijau tersebut tampak beratap kubah emas dan di bagian depan berdiri menara tunggal. Masjid yang dihiasi dengan ornamen serta tulisan Arab itu bernama Masjid Sabilul Muttaqin, yang dibangun agar masyarakat setempat salat Jumatnya lebih dekat.

Masjid Sabilul Muttaqin, Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus 2017_6_19
Masjid Sabilul Muttaqin, Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus

Menurut Muhammad Sulikan (53), pengurus Masjid Sabilul Muttaqin sudi berbagi penjelasan kepada seputarkudus.com tentang masjid tersebut. Dia mengungkapkan, Masjid Sabilul Muttaqin dibangun sejak tahun 1992. Pembangunan masjid tersebut karena warga Dukuh Krajan Lor, Desa Jepang Pakis dulu tidak memiliki masjid. Warga melakukan salat Jumat di masjid dukuh lain yang tempatnya lumayan jauh.

“Karena jauh itulah, ada satu dermawan di Dukuh Krajan Lor mewakafkan tanahnya untuk di Bangun Masjid Sabilul Muttaqin. Masjid tersebut berdiri di atas tanah wakaf seluas 330 meter persegi. Namun karena posisinya tanah memanjang dari utara ke selatan, jadi bentuk masjid memanjang tidak memanjang ke barat,” ujar pria yang akrab disapa Sulikan kepada seputarkudus.com.

Pria yang rumahnya berdampingan dengan masjid tersebut mengungkapkan, pembagunan Masjid Salibul Muttaqin memakan waktu sekitar tiga tahun. Namun pada kurun waktu tersebut bangunannya belum sempurna dan harus diperindah dengan berbagai macam ornamen. Dan Masjid punya empat saka terbuat dari beton dan dicat mengkilat tersebut benar-benar selesai pembangunannya pada tahun 2011.

“Masjid diresmikan oleh beliau KH Sya’roni Ahmadi, dan pembanguna masjid menelan biaya sekitar Rp 3 miliar. Dana tersebut berasal dari sawadaya masyarakat Jepang Pakis,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Masjid Salibul Muttaqin dibangun dengan desain minimalis serta gabungan bentuk masjid Timur Tengah dengan ciri menara meski hanya satu. Oleh sebab itu agar ada kesan Jawanya, semua pintu masuk masjid dipasangi gebyok yang diperindah dengan ukiran. Bahkan untuk pintu utama masjid gebyoknya terbilang besar.

“Gebyok di pintu utama bagian atasanya diukir dengan lafal Asmaul Husna, serta kanan dan kirinya bertuliskan lafal Allah dan Muhammad. Sedangkan lainnya ukiran khas gebyok Kudus. Begitu juga dengan jendela bawah semua juga ukiran dan tengahnya juga ada tulisannya Allah dan Muhammad,” ujarnya sambil jarinya menunjuk semua jendela yang dimaksud.

Sedangkan bagian dalam masjid, tuturnya, dinding masjid dipasangi granit setengah badan. Begitu juga dengan lantai masjid dan dinding pengimaman bagian dalam. Untuk dinding pengimaman bagian luar dihiasi ornamen serta dipasangi mozaik. Tampak pula di pengimaman sebuah mimbar yang terbuat dari monel.

“Dulu masyarakat setempat memang sepakat untuk membangun masjid yang bentuk modern dan bagus. Agar masyarakat khususnya generasi muda agar dengan suka cita salat di masjid dan menyemarakan masjid dengan berbagai kegiatan ke agamaan. Alhamdulillah selama puasa jamaah salat Teraweh di Masjid Salibul Muttaqin selalu penuh, begitu juga saat Salat Jumat,” ujarnya.