Santri Yanbu’ul Qur’an Asal Jakarta Timur Ini Sering Menangis Saat Kangen Orang Tua

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Sejumlah anak terlihat asyik bermain prosotan di selatan gedung dua lantai Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra. Tampak ada pula yang bermain mangkok putar, tangga majemuk dan sepak bola yang lokasinya masih satu kompek. Mereka yakni para santri penghafal Al-Quran yang sedang menikmati waktu istirahat usai mengikuti sekolah formal di MI NU Tahfidhul Qur’an Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS).

Santri Yanbu'ul Qur'an Kudus menghafal ayat sebelum setoran 2017_6_8
Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus menghafal ayat sebelum setoran. Foto: Imam Arwindra

Di antara santri yang bermain Ahmad Zaidan Fathul Mubarok (7). Dia sudah berada di pondok selama satu tahun, dan mengaku sering bermain selepas sekolah. Jika tak bemain dengan teman-temannya, dia merasa kesepian dan ingin pulang. “Kalau ingin pulang ya nangis,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Baca juga:

Zaidan sapaan akrabnya, mengungkapkan, orang tuanya biasa menjenguk dirinya setiap satu bulan sekali. Menurutnya, dia bisa pulang hanya saat liburan pondok saja. Selebihnya harus tinggal di dalam pondok. Dia memberitahukan, saat tidak ada kegiatan Zidan mengaku rindu dengan orang tuanya. Terlebih saat malam hari sebelum tidur. “Kangene pol (sangat kangen),” tutur santri asal Jakarta Timur tersebut.

Begitu juga Sauqi, teman bermain Zaidan yang memiliki nama lengkap Muhammad Sofwan Kamil (8). Sauqi mengaku juga sering menangis saat sedang rindu dengan orang tuanya. Menurutnya, selain menjelang tidur, dia ingat orang tuanya saat kesulitan menghafal Al-Quran. Dia mengaku ingin segera menyelesaikan hafalannya dan kembali pulang. “Saya baru hafal 14 juz,” ungkap Sauqi yang berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

Berbeda dengan Pranata Muhammad (7), yang rumahnya dekat dengan Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Dia mengaku betah tinggal di pondok. Menurutnya, di awal mondok dia sering menangis. Namun karena temannya banyak, akhirnya selama satu tahun dia sudah tidak menangis lagi. “Tapi kadang-kadang ya nangis,” tuturnya sambil tertawa.

Sementara itu, pengurus Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra, Moh Asyroful Khotim mengungkapkan, anak-anak yang masih berusia antara tujuh tahun tersebut memang biasa menangis. Menurutnya, mereka menangis karena rindu dengan orang tuanya. “Ya sudah biasa. Mereka kan masih anak-anak, wajar,” ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, dirinya hanya memastikan anak-anak sehat dan baik-baik saja. Dia memberikan kepastian kapan waktu dijenguk orang tua dan libur sekolah. Setelah kepastian diberikan, mereka akan diam dan kembali beraktivitas seperti sedia kala. “Seperti tadi ada anak yang nangis ingin pulang. Setelah saya bilang tanggal 14 Juni 2017 nanti akan dijemput orang tua, ya sudah dia diam. Yang penting anak ada kepastian,” jelasnya.

Dia memberitahukan, selain libur sekolah pihaknya memberikan waktu satu bulan sekali untuk kunjungan wali santri. Hal tersebut dilakukannya di hari Jumat pertama setiap bulan. Wali santri wajib datang ke pondok untuk berkunjung supaya mengetahui perkembangan anaknya.

Dia menjelaskan, santri yang tinggal di pondok sebanyak 316 anak. Jika hanya kedua orang tua anak yang menjenguk sudah terdapat  900 orang. Belum lagi jika adik, kakek dan saudaranya ikut, akan ada 1.000 lebih orang yang berada di lokasi pondok. “Yang penting orang tua ikhlas melepaskan anaknya. Karena nanti akan berpengaruh terhadap perkembangan anak,” ungkapnya.

Supaya anak tidak terlalu ingin pulang, pihaknya juga sering mengadakan kegiatan. Menurutnya saat tidak ada aktivitas belajar, dirinya membuat kegiatan di antaranya renang, ziarah dan berbagai perlombaan. Selain itu, santri juga diberi tontonan film supaya mereka bisa berlibur. “Di sini tidak boleh bawa HP. Nonton televisi pun bukan acara-acara TV, melainkan film-film kartun anak-anak,” jelasnya.

Selama membimbing anak, Asyroful Khotim mengaku banyak mengalami kesulitan. Kesulitan terbesar yakni memahamkan anak saat melakukan sesuatu. Seperti contoh tidak diperbolehkan naik pohon karena khawatir jatuh. Saat anak diberi pengertian, mereka justru penasaran dan mencobanya. Bahkan saking penasaran, santri yang lain ikut mencoba. Mereka akan berhenti, apabila ada yang pernah jatuh. “Ya gitulah anak-anak. Mereka memang waktunya untuk bermain,” ungkapnya

Menurutnya, di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra terdapat 27 ustaz Al-Quran dan 12 ustaz murabbi yang selalu mendampingi mereka saat di pondok. Dia menjelaskan, ustaz Al-Quran yakni yang mendampingi mereka untuk menghafal Al-Quran, sedangkan ustaz murabbi yang membantu santri memenuhi kebutuhan sehari-harinya.