Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus Anak-Anak, Datang Dari Sabang Hingga Merauke Menghafal Al-Quran

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM,  KRANDON –  Musala di dalam Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Putra Kabupaten Kudus terlihat penuh dengan ratusan anak yang akan melaksanakan salat Ashar. Mereka telihat baris di setiap saf, sementara beberapa ustaz bersarung terlihat mengarahkan. Sesekali mereka diingatkan untuk beberapa gerakan salat yang dianggap kurang sesuai. Anak-anak yang sedang belajar salat tersebut yakni para santri penghafal Al-Quran di pondok tersebut.

Anak-anak penghafal Al-Quran di Ponpes Yanbuul Quran Kudus 2017_6_5
Anak-anak penghafal Al-Quran di Ponpes Yanbuul Quran Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Putra, Moh Asyroful Khotim, selain belajar menghafal A-Quran, anak-anak yang usianya rata-rata tujuh tahun tersebut juga belajar salat, bertata karma baik dan mandiri. Dia menjelaskan, santri yang sebanyak 316 anak di pondok tersebut berasal dari Sabang sampai Merauke.

“Memang benar dari Sabang sampai Merauke. Karena hampir setiap  daerah di Indonesia ada perwakilan, meskipun hanya satu anak,” ungkap Asroful saat ditemui di kantor pondok, beberapa waktu lalu.

Dirinya memberitahukan, santri di pondok tersebut ada yang berasal dari Bali, Banyuwangi, Banten, Kalimantan dan Sulawesi. Namun santri yang mondok di Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Putra didominasi dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurutnya, setiap tahun pondok menerima 50 santri yang sudah lulus seleksi tahap satu dan dua. “Ajaran 2017-2018 sudah dilakukan 21 Mei 2017. Ini sudah seleksi tahap dua yakni karantina,” tuturnya.

Pada pendaftaran tahun ajaran 2017-2018, pihaknya menerima pendaftar 160 anak. Setelah dilakukan seleksi tahap satu tersisa 66 anak yang mengikuti tahap kedua yakni karantina selama 21 hari. Anak-anak yang berusia antara enam hingga tujuh tahun akan dinilai perkembangan bacaan Al-Quran, daya ingatan hafalan dan sikapnya selama di pondok. Dan yang terpenting anak tersebut bisa mandiri. “Nantinya akan diambil 50 anak dan 16 anak dipulangkan,” jelasnya.

Seleksi yang dilakukan menurutnya sudah sesuai dengan ketentuan pondok. Adanya pemahaman masyarakat yang dianggap dipersulit untuk belajar di Yanbu’ul Qur’an, menurutnya tidak benar. Pihaknya melakukan seleksi secara selektif supaya anak benar-benar sudah siap. Jika , jika anak tidak siap, mereka akan tertekan dan berakibat malas dalam menghafal Al-Quran.

“Jadi  tidak ada dipersulit. Ini untuk tujuan anak supaya benar-benar siap. Siap menghafal, mental dan tidak manja lagi dengan orang tuanya,” ungkapnya.

Setelah lulus seleksi tahap kedua, katanya, mulai hari Senin 12 Juni 2017, anak-anak tersebut akan resmi menjadi santri di Yanbu’ul Qur’an anak-anak. Mereka akan belajar menghafal Al-Quran hingga khatam 30 juz. Namun berjalannya waktu dalam setahun anak tidak memenuhi target hafalan dan diindikasi tidak mempu mengembangkan kompetensinya, maka tanggung jawab pendidikan akan diserahkan kembali kepada orang tua.

“Untuk khatam 30 juz biasanya empat sampai lima tahun. Namun ada juga anak yang baru dua tahun sudah khatam,” terangnya.

Asyroful Khotim memberitahukan, pondok Pesantren Yanbu’ul Quran yang dibawah naungan Yayasan Arwaniyyah memiliki delapan unit pesantren di Kudus. Yakni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Dewasa Putra dan Putri,  Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran remaja putra di Bejen, Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra di Krandon dan Pondok Tahfidh Yanabi’ul Quran Anak-Anak Putri di Karangmalang Gebog.

Selain itu, ada Pondok MTs dan MA Tahfidh Yanbu’ul Quran Putra di Menawan, Ma’had Al Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Quran (MUS-YQ) Lil Banin di Kwanaran dan Ma’had Al Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Quran (MUS-YQ) Lil Banat di Kerjasan.

“Di luar Kudus, Yayasan Arwaniyyah juga memiliki unit di Pati dan Batam. Untuk di Pati membuat SMP namun masih proses, sedangkan di Batam sudah ada namun untuk para pekerja yang ingin belajar menghafal Al-Quran. Di Batam kan banyak pekerja dari luar kota. Mereka diberikan tempat untuk belajar menghafal Al-Quran. Jadi bekerja sambil menghafalkan Al-Quran,” tambahnya.