Teater Djarum Buat Film Berjudul Lathi, Akan Ditayangkan pada Hari Raya Idul Fitri

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di sebuah rumah di tepi Jalan Raya Kudus-Pati, tepatnya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, terlihat sejumlah orang sedang menonton film pendek. Sambil menikmati kopi, sesekali mereka tertawa melihat adegan yang lucu dalam film tersebut. Film berjudul Lathi, yang baru saja diproduksi Teater Djarum. Film tersebut khusus untuk ditayangkan pada hari raya Idul Fitri 1438 H, 25 Juni 2017.

Proses produksi film Lathi karya Teater Djarum, Kudus 2017_6
Proses produksi film Lathi karya Teater Djarum, Kudus

Kepada Seputarkudus.com, Asa Jadmiko (41), sutradara film Lathi, sudi berbagi penjelasan tentang film tersebut. Dia mengatakan, ide awal pembuatan film dilatarbelakangi banyaknya oknum pejabat yang hanya bicara tanpa tindakan. Dia memilih kata Lathi sebagai judul, yang memiliki artinya ucapan. Melalui film tersebut pihaknya ingin menyampaikan kritik sosial.

“Ide cerita film Lathi berawal dari kegelisahan saya, karena melihat banyak oknum pejabat yang hanya omong-omong tok (OOT), kemudian muncul ide tersebut. Kami memang ingin mengangkat ide cerita yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi memiliki nilai kritik sosial,” terang Asa saat ditemui belum lama ini.

Asa, begitu dia akrab disapa, sengaja mengemas cerita yang erat dengan masyarakat lokal Jawa. Menurutnya, masyarakat Jawa biasanya mudah membuat kesalahan tetapi juga mudah untuk memaafkan. Dialog dalam film tersebut juga menggunakan Bahasa Jawa agar mudah dipahami.

Pegiat seni teater di Kudus itu menjelaskan, film Lathi menceritakan ada seorang kiai yang tidak mengakomodir usulan masyarakat. Masyarakat hanya mengiyakan perintahnya tetapi tidak dijalankan. Dalam film tersebut diceritakan, semua memiliki kesalahan, dan hari raya Idul Fitri yang menjadi penyelamat mereka semua.

“Di film ini tidak ada sosok pahlawan, semua memiliki kesalahan masing-masing. Dan hari raya Idul Fitri itulah yang menjadi penyelamat mereka semua. Dengan halal bihalal, mereka bisa salang memaafkan,” jelasnya.

Film Lathi, katanya, berdurasi sekitar 27 menit. Film tersebt akan ditayangkan di Youtube pada tanggal 25 Juni 2017, pukul 6.30 WIB. Selain itu, mereka juga merencanakan agenda nonton bareng pada tanggal 5 Juli 2017, sekaligus halal bihalal.

Sutrimo (38), satu di antara sejumlah aktor film Lathi, menambahkan, produksi dilakukan pada Ramadan ini. Film dibuat karena Teater Djarum tidak ada aktivitas. Daripada tidak ada kegiatan, beberapa anggota berdiskusi untuk mengisi aktivitas. Dan disepakatilah untuk membuat film.

“Waktu itu kami usai pengambilan gambar untuk tugas kantor. Kemudian ngobrol-ngobrol dan muncul ide membuat film dari Mas Asa. Daripada tidak ada aktivitas saat bulan Ramadan, jadi kami setuju (membuat film),” tambah warga Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus itu.


Sinopsis

LATHI
“Jaga ati, jaga lathi”

https://youtu.be/d0qp5fHiGAs (tayang 25 Juni 2017)

Lathi adalah lidah, atau dalam film ini dimaksudkan sebagai ucapan. “Lidah tak bertulang”, kata orang, maka ia bisa sesukanya mengucapkan sesuatu, ngomong ini ngomong itu. Tetapi belum tentu apa yang diucapkannya, dilaksanakannya. “Esuk tempe, sore dele”, bisa mencla-mencle.

Memberi usul yang baik dan membangun, kadangkala hanya berhenti di niat. Kadangkala juga malah memperkeruh. apalagi di jaman sekarang ini, dimana orang bisa bebas mengajukan pendapat, malah membuat suasana tambah keruh.

Tetapi Hari Raya Idul Fitri adalah sebuah momentum yang bernilai penting. Segala kesalahan dan kealpaan, segala tutur kata perbuatan yang keruh dan (mungkin) kotor, oleh karunia Idul Fitri, dijernihkan kembali. Jagalah hati, jagalah lathi…

Sutradara: Asa Jatmiko, Kamerawan: Acong Sudarmono, Ilustrasi Musik: Waryoto Giok, Aktor Tamu: Dito Morra – Teater Keset, Kru: Prisbah Kusjito, Rofiq Setiawan, Pemain: Sutrimo Astrada, Sianiek, Purna Irawan, Sriyatun Lala, Masrien Lintang, Bambang Susanto, Heru Nugroho, Kasmin, M. Hafidl Arifi, Abdul Soleh, Sumarlan, M. Isromi, Ngatini, Nur Khamidah, Jasmin Chandra, Umi Setiyani dan Mur Puji Ningsih. Musik Penutup: IDUL FITRI – Gita Gutawa