Setelah Ganti Merek Gabungan Nama Anaknya, Usaha Tas Milik Ngatman Berkembang Pesat

Posted on

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Beberapa orang tampak sedang sibuk di dalam rumah yang berada di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Mereka tampak berbagi tugas, ada yang menjahit, ada yang menggambar pola tas serta memotongnya. Di ruangan lain terlihat tumpukan tas sesuai bentuk. Tas tersebut yakni tas merek Chosagie, yang namanya merupakan singkatan nama depan empat anak Ngatman (51), pemilik usaha pembuatan tas tersebut.

Tas Chosagie, produk Desa Loram Wetan
Tas Chosagie, produk Desa Loram Wetan. Foto: Rabu Sipan

Amin Sutanto, (35) pengelola usaha, yang juga menatu Ngatman, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang merek Chosagie. Anto, begitu dia akrab disapa, menuturkan, kata Chosagie diambil dari nama keempat anak mertuanya.

Baca juga: Tas Chosagie, Tas Sekolah Legendaris dari Loram Wetan yang Dikenal di Jateng dan Jatim

“Chosagie itu diambil dari nama kesemua anak mertuaku. Cho itu Cholik nama anak pertama mertuaku. Kemudian Sa itu dari nama istriku dan adiknya yakni Dwi Purnama Sari dan adiknya Febriana Permata Sari. Jadi Sa itu aslinya Sari. Sedangkan Gie itu dari kata Ragiel anak bungsu bapak Ngatman,” jelasnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang masih tinggal bersama mertuanya itu mengatakan, sebelum diberi merek Chosagie, tas produksi usaha yang dia kelola beberapa kali sudah berganti-ganti merek. Hal tersebut tak lepas dari lika-liku perjalanan merintis usaha. Selain itu juga terkadang ada sebuah kejadian yang merugikan usaha bapak dari istrinya tersebut dan terpaksa harus mengganti merk agar lebih hoki.

Dia menuturkan, bahkan sebelum diberi merek Chosagie pernah mertuanya beberapa kali ditipu orang. Tak jarang pula uang pembayaran tas dibawa lari sales yang memasarkan tas hasil produksi mertuanya. Setelah keempat anaknya, lahir kemudian Ngatman berinisiatif memberikan merek tas hasil produksinya dengan Chosagie.

“Dari cerita mertuaku, Alhamdulillah sejak diberi merk Chosagie yang merupakan berasal dari nama keempat anaknya tersebut, usaha mertuku lumayan berkembang. Selain anugrah, keempat anaknya tersebut seolah hoki bagi usaha mertuaku,” ungkapnya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu menuturkan, kini untuk pemasaran tas Chosagie tidak dipercayakan pihak ketiga ataupun sales. Jadi sekarang semua pemasaran dihandel oleh mertuanya sendiri dan mertuanya tersebut mendatangi langsung para pedagang yang berada di pasar. Begitu juga dengan pembayarannya. Semua pembayaran langsung diurusi sama mertuanya dengan sistem cash, ada barang ada uang.

Dia menuturkan, Tas Chosagie hasil produksi mertuanya kini sudah didistribusikan ke beberapa pasar di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk Jawa Tengah, Selain di Kudus, Semarang, Solo juga didistribusikan ke Pekalongan dan sekitarnya. Sedangkan di Jawa Timur, Tas Chosagie sudah terdistribusi ke Surabaya, Gresik, Malang, Bojonegoro, dan beberapa daerah lainnya.

Menurutnya, sekali pengiriman kesatu daerah bisa sampai ratusan  lusin. “Semoga saja kedepannya Tas Chosagie bisa merambah pasar lebih luas lagi. Tidak hanya di Jawa melainkan juga diminati hingga pulau seberang,” harapnya.