Tas Chosagie, Tas Sekolah Legendaris dari Loram Wetan yang Dikenal di Jateng dan Jatim

Posted on

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Di dalam rumah yang berada di Desa Loram Wetan gang Sopo Royo, Kecamatan Jati, Kudus tampak beberapa perempuan sedang mengoperasikan mesin jahit. Di ruangan lain terlihat seorang pria sedang mengemas beberapa tas lalu mengemas tas tersebut. Rumah tersebut merupakan tempat produksi tas bermerek Chosagie, milik Ngatman (51).

Tas sekolah merek Chasogi produksi Kudus, 2017_7_25
Tas sekolah merek Chasogi produksi Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Amin Sutanto (35), menantu Ngatman, meceritakan, mertuanya merintis usaha pembuatan tas sudah sekitar 23 tahun. Namun sebelum mulai berani merintis usaha, mertuanya pernah ikut bekerja kepada orang lain sejak remaja hingga menikah sebagai tenaga jahit.

“Setelah menikah, mertuaku membawa pulang semua garapan menjahit tas dan dikerjakan di rumah. Tujuannya agar selain menjahit mertuaku juga bisa mengerjakan sesuatu lainnya yang menghasilkan uang. Pokoknya dulu selain menjahit mertuaku juga kerja serabutan,” ungkap pria yang akrab disapa Anto kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Pria yang sudah dikaruniai satu putri itu mengatakan, yang dilakukan mertuanya itu bertujuan agar bisa mendapatkan uang lebih dan bisa untuk modal merintis usaha produksi tas secara mandiri. Menjahit dan kerja serabutan itu dilakukan oleh mertuanya selama kurang lebih lima tahun. Saat dirasa sudah cukup modal, sekitar tahun 1994 mertuanya tersebut memberanikan diri memproduksi tas.

Amin menuturka, saat itu mertuanya menjahit tas yang diproduksinya. Saat sudah ada beberapa lusin produk tas, kemudian mertuanya menawarkannya ke beberapa peadagang di beberapa pasar di Jawa Tengah. “Dan Alhamdulillah responnya bagus. Bahkan sekarang pedagang langganan tas Chosagie sudah ada puluhan pedagang yang tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ungkap Anto.

Pria yang menikahi anak kedua Ngatman itu menuturkan, permintaan Tas Chosagie meningkat tajam saat masuk tahun ajaran baru. Untuk satu pedagang saja di Jawa Tengah ada yang meminta dikirim Tas Chosagie sebanyak 120 lusin, itu belum termasuk pedagang lainnya. Sedangkan untuk daerah Jawa Timur, di antaranya, Surabaya, Gresik, Malang, Bojonegoro, dan sejumlah daerah lainnya, meminta sebanyak-banyaknya Chosagie.

“Untuk ajaran baru masuk sekolah memang permintaan tas kami meningkat tajam. Sedangkan di luar waktu tersebut, satu mobil boks berisi 120 lusin itu dibagi ke beberapa pedagang di satu daerah Kabupaten,” ungkapnya.

Dia mengatakan, tas yang diproduksi mertuanya yakni tas punggung untuk sekolah, dengan berbagai ukuran dan harga. A da yang seharga Rp 240 ribu per lusin, hingga Rp 500 ribuan per lusin. Selain menjual dalam partai besar, mertuanya juga melayani pembelian ecer.

Alhamdulillah sekarang produk tas Chosagi mulai dikenal tidak hanya di Jawa Tengah melainkan juga Jawa Timur. Dan bahkan hasilnya mertuaku mampu membeli tanah dan bangun rumah serta mampu membeli mobil untuk operasional. Ke depannya semoga usaha mertuaku makin maju lagi,” harapnya.