Kisah Sukses Lulusan SD Usaha Gipsum, Kini Bisa Beli Mobil Dan Rumah Mewah

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Di tepi Jalan Kiai Mojo Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus tampak sebuah bangunan beratap seng. Di dalam bangunan terlihat puluhan lis gipsum tergantung. Tampak pula seorang pria mengenakan kemeja biru sedang mengamati dua orang sedang mencetak gipsum. Pria tersebut bernama Sukaelan (45) pemilik usaha gipsum tersebut.

Sukaelan, pemilik usaha pembuatan gipsum di Kudus
Sukaelan, pemilik usaha pembuatan gipsum di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Sukaelan yang mengaku hanya lulusan sekolah dasar (SD) itu merintis usaha pembuatan gipsun dari nol. Saat itu dirinya tak punya apa-apa, bahkan sepeda ontel pun tak punya. Tapi kini dirinya mampu membeli beberapa mobil dan rumah.

Pria yang akrab disapa Jaelan itu sudi berbagi kisahnya tentang usahanya tersebut. Dia mengisahkan, sebelum menikah dirinya bekerja jadi sopir truk dan memuat pasir sejak tahun 1992. Tiga tahun menjadi sopir kemudian dia memutuskan menikah. Namun, di tahun ketiga usia pernikahannya dia mengalami kecelakaan dan truk yang dikendarainya hancur.

“Padahal saat itu aku sudah dikaruniai dua orang anak. Akibat dari kecelekaan tersebut, aku harus memperbaiki truk tersebut dan aku juga harus berhenti dari pekerjaan sopirku,” ujarnya saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Warga Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus itu mengungkapkan, pada waktu itu dirinya merasa sangat terpuruk. Tidak punya penghasilan hingga tidak mampu membelikan susu putrinya yang masih kecil. Saat itu kata dia untuk menggantikan susu, istrinya mencampur air dengan gula. Karena tidak ingin pasrah dengan keadaan, dia mengaku saat itu kerja apa saja yang penting halal dan mampu menghasilkan uang.

Menurutnya, karena tidak punya sepeda ontel dirinya pun meminjam sepeda tetangganya dan pergi ke Pasar Johar. Di pasar tersebut order pekerjaan apa saja ditermianya dari makelar sepeda hingga bekerja bangunan pun dilakukannya. Hingga dia bertemu dengan temannya yang memiliki usaha gipsum dan Jaelan pun bicara pada temannya tersebut agar diperbolehkan ikut bekerja.

“Temanku tersebut menerimaku bekerja. Kata temanku kalau mau kerja besok berangkat saja. Saking senangnya semalaman aku sampai tidak bisa tidur. Karena aku bisa menyetir mobil aku pun diminta temanku membawa mobil untuk mengirim gipsum kepada para pelanggan,” bebernya.

Pria yang sekarang dikaruniai tiga orang anak itu menuturkan, bekerja ikut temannya tidak lama, hanya beberapa bulan saja. Setelah melihat proses pembuatan gipsum yang dianggapnya gampang tersebut Jaelan kemudian memutuskan mendirikan usaha pembuatan gipsum sendiri dengan modal menjual kalung emas milik putrinya.

“Dari menjual kalung putriku itu aku mendapatkan uang Rp 450 ribu. Sebagian aku gunakan belanja bahan pembuatan gipsum dan sisanya aku gunakan menyewa sepeda motor untuk mencari orderan,” ungkapnya.

Pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar tersebut mengungkapkan, karena modanya terbatas dirinya tidak berani menyetok gipsum. Yang dilakukannya saat itu yakni setiap hari keliling mencari order dan setelah mendapatkan order baru dia membuat gipsum sesuai pesanan pelanggan. Kata dia, setiap hari keliling, Kudus, Demak, Jepara, Pati Hingga Rembang untuk mencari orderan.

Menurutnya, dari hasil kelilingnya tersebut beberapa kali mendapatkan order. Dan setiap order dia bersukur pelanggannya selalu percaya hingga bersedia memberikan DP. Dia bersyukur sekarang usaha pembuatan gipsumnya sudah berkembang dan sudah lumayan hasilnya.

“Alhamdulillah dari usaha pembuatan dan penjualan gipsum tersebut kini aku mampu beli tanah, rumah bertingkat dan mobil. Rumah ada dua dan mobil ada tiga, yang dua untuk operasional usaha. Kini selain gipsum aku juga merambah usaha bengkel las,” tuturnya.